PROGRAM KEHAMILAN TAHAP PERTAMA
Assalamu'alaikum ^_^
Bismillah, insyaAllah mulai hari ini setiap proses PROMILku akan saya tulis di blog. Semoga bisa menjadi manfaat bagi yang membaca nantinya. Kalaupun tidak semoga tulisan ini nantinya bisa menjadi pengingat bahwa memiliki buah hati benar benar anugrah terindah dari Illahi.
Jalan PROMIL ini kami ambil karena kami sudah setahun menikah dan masih belum mendapat tanda-tanda kehamilan. Selain itu jadwal menstruasi saya yang selalu tidak normal sejak zaman masih perawan sampai sekarang juga menjadi salah satu alasanya. Saya memiliki keyakinan, bahwa Allah tidak mungkin melanggar sunnatullahnya. Cat biru jika dicampur cat kuning dengan takaran yang pas pasti akan menghasilkan cat berwarnah hijau. kecuali saat melakukan pencampuran kedua cat tersebut dilakukam dengan takaran yang terlalu banyak pada cat berwarnah biru, sedangkan cat kuning hany diberikan tetes. Atau bisa juga cat berwarnah biru sudah mengering saat dilakukanya proses pencampuran dengan cat berwarnah kuning. Sehingga pada saat seperti itu sangat tidak mungkin pencampuran kedua cat tersebut bisa mengghasilkan warnah hijau. Begitu pula saat seorang istri berhubungan badan dengan suaminya dalam tempo masa pernikahna yang sudah lebih dari setahun. Semestinya terjadi kehamilan yang dialami seorang istri, kecuali ada unsur-unsur lain yang menghmbat proses kehamilan itu terjadi. Karena sebab itulah saya memutuskan ikhtiar dengan jalan PROMIL kepada ahlinya. Agar terlihat permasalah apa yang terjadi pada kami, hingga mengakibatkan saya sulit mengalami kehamilan. Dengan begitu kita bisa mendapatkan solusi untuk permasalahan kehamilan yang saya alamai.
Klai ini saya ikhtiar PROMIL di dr.Eni Fatmawati, Sp.OG. Mungkin akan ada beberapa yang bertanya kenapa tidak promil ke SpOG(K)? Alasanya sih, pertama. Di kota saya (Lamongan) belum ada dr. SpOG(K), yang kedua untuk PROMIL ke dr. SpOG saja sudah membuat saya dan suami benar-benar harus berhemat dan pandai-pandai mengatur keuangan keluarga kami. Apa lagi jika harus promil ke dr.SpOG(K) tentu akan memakan biaya yang sangat besar bagi kondisi keuangan kami. Sehingga bismillah, kami memilih dr. SpOg yang juga memiliki ilmu serta pengalaman dalam menangani kasus seperti ini.
Kembali kepada PROMIL TAHAP PERTAMA saya. Pada saat saya mengunjungi dr. Eni Fatmawati Sp.OG, berat badan dan tensi saya diukut oleh asisten dokter, setelah itu sang dokter menanyakan beberapa pertanyaan seperti:
1. Kapan haid terakhir?
2. Bagaimana siklus haid saya?
3. Apakah suah perna PROMIL sebelumnya?
4. Berapa usia saya, usia suami dan usia pernikahan kami?
Selanjutnya dokter meminta saya masuk ke dalam ruangan untuk diperiksa lebih lanjut. Saat itu saya di USG untuk melihat kondisi rahim. Alhamdulillah rahim saya babik-baik saja, bebas kista ataupun yang lainya. Hanya saja pada saat dilakukanya pemeriksaan dokter melihat bahwa dinding rahim saya tebal. Umumnya penebalan didnding rahim dialami oleh wanita hamil, sehingga untuk memastikan saya hamil atau tidak dokter melakukan pemeriksaan tes urin saya. Hasilnya menunjukkan bahwa saya negatif hamil.
Selanjutnya dokter memberi saya resep untuk mengatur masa haid saya dan bliau meminta saya datang kembali saat haid pertama saya datang nantinya. Resep yang kedua dokter memberi asam folad untuk dikonsimsi setiap hari. Serta meminta suami untuk melakuan tes seperma tiga hari kedepan dengan sarat selama tiga hari tersebut tidak boleh melakukan aktifitas yang bisa membuat seperma keluar (berhubungan badan).
Nah untu masalah biaya, biaya yang kami keluarkan untuk melakukan pemeriksaan tahap pertama ini sebesar Rp. 245.000,- sudah termasuk jasa dokter, USG dan obat-obatanya.
Bismillah, semoga atas kuasaNya kami akhirnya berhasil memiliki buah hati darah daging kami sendiri. Dan semoga Allah memudahkan proses kami. melancarkan riski, menguatkan kesabaran serta mengokohkan keimanan kami, aamiin.
Hsil USG dan reseb obat
Lamongan, 13 Agustus 2018 22:28 WIB
Wahana Religi di Taman Bungkul
Taman Bungkul kota Surabaya adalah taman
kota yang tak kunjung sepi dari para pengunjung. Taman ini berbeda dengan taman
kota lainya. Disurabaya kita memang tidak akan kesulitan mencari taman sebagai
wahana singgah. Dan taman bungkul adalah salah satu alternative yang tepat
untuk di pilih. Karena selain menyuguhkan tempat singah berupa taman untuk have
fun, taman bungkul juga alternative yang cocok untuk wisata religi. Sebab
ditaman ini terdapat makam Ki Ageng Bungkul yang pun tak kunjung sepi dari para
pengunjung muslim yang hendak takziyah.
| Add caption |
| Add caption |
Sungguh, baru memasuki kawasan
awal saja kita sudah di tunjukkan berbagai kurofat yang apa bila kita
melakukanya akan menodai agama kita. Di dalam sana kita tidak seperti
pengunjung pada umumnya. Kebanyakan pengunjung melakukan ritual berupa ngaji
dan berdo’a di atas kuburan makam ini. Kita justru mendiskusikan beberapa hal
yang seharusnya di rubah dari menset para pengunjung makam ini. Tentu sudah
kita ketahui, kita di perbolehkan ziarah kubur dengan maksud refleksi diri. Mengingat
saat dimana nantinya kita akan mengalami masa seperti mereka-mereka yang saat
ini lebih dulu menempatai rumah penantian hari akhiri. Dan merenungi dosa-dosa kita selama ini. Bukan
malah di gunakan sebagai alternatif ibadah yang jelas-jelas tidak ada
tuntunanya dalam islam.
Namun sungguh memiliukan hati.
Karena di tempat ini justru di fasilitasi beberapa rak yang berisi Al-Qur’an.
Dan dari rak ini biasanya mereka mengambil Al-Qur’an untuk di gunakan mengaji
di samping kuburan kuburan tersebut. Padahal di masjid yang ada di dalam makam
ini kita tidak menjumpai Al-Qur’an. Namun mengapa di tengah-tengah pemakaman
justru di sediakan banyak Al-Qur’an. Sungguh ini adalah pemandangan yang sangat
menyayat qalbu.
Ketika Aku Jatuh Cinta dan Untukmu Yang Tengah Jatuh Cinta
Suatu
hari saya sedang jatuh cinta, menurut teman-teman kos, saya jatu cinta pada
bayangan semu. Tak salah saat mereka berkata demikian, sebab benar memang apa
yang mereka sampaikan. Saya sedang jatuh cinta kepada sosok yang bernama jodoh.
Entahlah, saya memiliki bayang-bayang
bahwa ia adalah adalah sosok yang hatinya dipenuhi oleh rasa cinta
terhadap Alloh, bibirnya bergerak perlahan tapi kontinyu dalam melafadzkan asma
Alloh, wajahnya teduh memancarkan cahaya keramahan namun penuh ketegasan. Saya jatuh
cinta. Ya, sangan jatuh cinta. Oleh Karen itu saya meneladaninya. Memenuhi hati
dengan rasa cinta pada Alloh dan rasululloh, membasahi bibir dengan kalimat
dzikirulloh dan senantiasa memanjatkan do’a untuk ditanguhkan hati ini dalam
penantian terhadap sosok yang bergelar jodoh tersebut. Menanti masa
keterkejutan yang akan Alloh berikan. Masa yang begitu nikmat. Seperti yang
Salim A. Fillah pernah katakana dalam bukunya “ inilah puasa panjang syahwatku.
Saat berbuka itu tak lama lagi. Dan rasa nikmat itu, ada pada terkejutan” dan
merasakan nikmat keterkejutan itu adalah apa yang sangat saya inginkan.
Loh,
kok tiba-tiba bahas Salim A. Fillah. Hehe, begini ceritanya… dalam suasana hati
yang tengah berbunga, saya menemukan sebuah buku yang dahulu pernah saya beli,
namun belum sempat membacanya. Buku karya Salim Ahukum Fillah, lembar demi lembar
saya nikmati kalimatnya. Tutur bahasanya membuat saya merasa nyaman membersamai
buku tersebut, wajar memang jika tidak sedikit penikmat buku karya Salim A.
Fillah. Kepiawaian jemarinya menekan tombol keyboard menghasilkan kata-kata
yang sangub merangkai kalimat indah. Kalimat yang pada akhirnya akan menuntun
pembaca untuk berjalan bersama mencintai Alloh, bangga pada Islam dan percaya
diri bergelar muslim atau muslimah.
Ah,
cukup kiranya membahas penulis best seler ini. Toh saya tidak sedang membuat
resensi tentang buku karya bliau. Saya hanya mengaguminya. Ya, itu saja. Kembali
pada keadaan saya yang tengah jatuh cinta. Awal saya jatuh cinta saat terbesit
Firman Alloh dalam benak saya,
Wanita-wanita
yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk
wanita-wanita yang keji, dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki
yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik… (An Nuur 26)
Tidak
untuk menafsirkan ayat tersebut maksudnya, karena saya bukanlah orang yang
berkemampuan dalam hal itu. Namun pengulangan kalimat dalam ayat ini membuat
saya yakin bahwa Alloh tengah mengatakan dengan tegas bahwa wanita-wanita yang baik adalah untuk
laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang
baik. Wanita mana yang tidak ingin berjodoh dengan lelaki yang baik? Dan
lelaki mana yang tidak ingin berjodoh dengan wanita yang baik. Bahkan wanita
berperangai buruk pun sesungguhnya menginginkan jodoh lelaki yang baik, nanun
ketakutan dalam hatinya sering kali membuat ia tak percaya diri jika berjodoh
dengan lelaki baik-baik, begitu bula sebaliknya, saya yakin!
Itulah mengapa saya jatuh cinta pada sesosok
bayang-bayang lelaki baik. Karena tak dapat saya pungkiri, bahwa saya menginkan
jodoh lelaki yang baik. Lelaki yang senantiasa merasa Alloh selalu mengawasi,
lelaki yang tak memiliki lelah melafadzkan asma Alloh terkecuali saat ia
terlupa, lelaki yang selalu berusaha meng-upgrade
iman dalam diri. Dan karena kata Alloh wanita-wanita
yang baik adalah untuk laki-laki yang baik maka saya pun berusaha mengikuti
sosok lelaki yang ada dalam bayang-bayang saya tersebut.
Saya “gila” mungkin kata anda, tidak. Sungguh
saya tidak “gila”. Saya terkena virus kisah dalam novel mungkin kata anda,
tidak. Anda salah jika berfikir demikian. Saya hanya memiliki azzam (keinginan yang kuat) untuk
berjodoh dengan lelaki seperti yang terdapat pada bayang-bayang saya. Oleh
karenanya saya berikhtiar memperbaiki diri. Sebab saya yakin apa kata Alloh
dalam an-Nuur 26 bahwa wanita-wanita yang
baik adalah untuk laki-laki yang baik . Dan Alloh pun menegaskan dalam
firmanya di lain surah,
“dan bahwasanya
seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya”
(an Najm:39)
(an Najm:39)
Dengan senyum sinis, mungkin akan ada salah
seorang diantara pembaca yang tersirat dalam fikiranya kalimat seperti ini:
“halah,
jodoh itu ketepan Alloh. Sejak nyawa telah Alloh tiupkan dalam diri kita. Sejak
itu pulah telah tercatat dengan siapa kita berjodoh. Iya kalau nama yang
tercatat itu lelaki yang baik, bagaimana jika bukan?”
Maka
saya akan kembali mengajak anda untuk memperhatikan firman Alloh dalam an Nuur
26.
“Wanita-wanita
yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk
wanita-wanita yang keji, dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki
yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik…”
Ketika
kita sedang khusyuk menyelam dalam kenikmatan sholat, boleh jadi dia sang jodoh
tengah menikmati manisnya berkholwat dengan Alloh. Dan ketika kita sedang
bermaksiat, tidak menutup kemungkinan pula bahwa ia sang jodoh nan jauh di sana
tengah tertawa riang cekikak-cekikik dan bergeliat-liat dalam kepalsuan nikmat
kemaksiatan. Sehingga tidak bisa dijadikan alasan bahwa jodoh yang merupakan
ketetapan takdir kemudian membuat kita santai-santi dalam beriman dan beramal.
Tetap harus ada usaha yang maksimal
berjuang dalam ketaatan jika kita pun berkeinginan berjodoh dengan sosok yang
taat. Sudah jelas firman Alloh dalam An Nuur 26 yang berulang kali saya
sampaikan. Mari kembali kita menyimak
bagaiman Alloh sekali lagi menegaskan kepada kita tentang hukum-hukumnya.
“Laki-laki yang
berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang
musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki
yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas
oran-orang yang mu'min”(an Nuur 3)
“Lantas bagaimana nasip kita yang
sempat bermaksiat sebelumnya?”
“apa lagi kita yang telah terjatuh
pada sumur kemaksiatan berupa zina, ?”
Jawabanya ada apada anda sendiri
setelah menjawab pertanyaan ini, “bukankan Alloh adalah Robb yang maha Rohman
dan Rohim?” jawablah. “Mungkinkah Alloh mengabaikan hambanya yang bertaubat
dengan penuh kesunguhan atas ketakutanya terhadap azab dunia dan akherat?”
jawablah. Maka, apa yang menghalangi kita untuk bertaubat? Mengapa malah suudzhon Alloh tak akan mengampuni
dosa-dosa kita?
“…jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah.
Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”(Yusuf 87)
Lihatlah,
bagaimana nasehat Ayah Yusuf kepada saudara-saudaranya yang tengah berputus asa
sampai di abadikan Alloh dalam Al-Qur’an jika bukan sebagai nasehat bagi kita
pula untuk tidak berputus asa akan problem yang kita hadapi. Rasakan betapa
indahnya ayat tersebut “jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah” seolah Alloh tengah mengelus-elus rambut
hambanya dengan penuh cinta dan “Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat
Allah, melainkan kaum yang kafir” berasa Alloh tengah mencium kening hambanya
untuk mentransfer eneri agar ia tak lagi lemah oleh rasa putus asa sebab Alloh
pasti mengampuni dosa-dosa hambanya yang sunguh-sungguh dalam bertaubat.
Maka, marilah bersama berjalalan di
jalan Alloh. Bergandengan menjadi hamba yang Alloh harapkan, senantiasa merasa
selalu terawasi oleh kemaha besaran pengelihatan Alloh. Menikmati masa
penantian dengan penuh keimanan, memenuhi hati dengan rasa cinta kepada Alloh
dan rasululloh. Berusaha maksimal agar menjadi hamba yang di cintai Robbnya.
Berupaya menyalurkan fitrah cinta yang hadir sebelum halal kepada perkara yang
syari. Singga saatnya nanti kita temui saat berbuka, dan Alloh suguhkan menu
buka puasa yang terasa manis di dalam hati. Allohu
Akbar.
Surabaya, 18 Ramadhan 1437 H
Aisyah An-Najmah
Sahabatku bukan Pacarku
Matahari
bersinar dengat semangat yang mengebu. Tanpa malu dan ragu ia tumpahkan cahaya
terangnya yang menyilaukan dan suhu panasnya yang membakar ke pada seluruh makhluk
bumi. Siang ini memang begitu menyengat panasnya, meski malam tadi hujan begitu
deras menguyur hamparan sebagian bumi ini. Kali ini jadwalku menuju toko
ZAVA, teman-teman tak perlu tahu toko zava itu apa. Sebab sefti tidak di
bayar untuk mempromosikanya. Bukanya pelit sih, cuma sedikit sebel aja sama si
mas ganteng* (*lebel dr mahasiswi UMSurabaya, kecuali saya) sang peilik toko
itu.
Jadi
ceritanya siang bolong ini, sefti bergegas setengah lari menuju toko zava guna
mengambil buku dan hasil fotocopyan-ku beberapa hari yang lalu. Sesampainya di
tempat. Mas pemilik toko dengan ramahnya menyambut kedatanganku sebagai
konsumen di tokonya.
"Ambil
buku ya mbak ?" Tanyanya dengan senyum hasnya.
"Iya
mas, jadi berapa harganya?" Jawabku setengah cuek.
"Jadi
totalnya Rp. 58.000.00 mbak ". Jawabnya sembari menyertakan buku-bukunya
kepadaku beserta tambahan nota harga.
"Oke,
terimakasih mas".
"Sama-sama
mbk. oh iya mbak ini Flasdick milik teman mbak ya?" Tanyanya, sambil
menunjukkan kemudian menyerahkan benda yang di pegangnya ke arahku.
"Oh
iya mas, ini milik Mega teman saya". Jawabku menerima Flesdick dari tanganya.
"Iya,
teman mbak uda lama gag ke sini. jadi saya titipkan ke mbak gag pa-pa kan? Mbak
temennya kan?" Ujarnya.
"Iya
saya temenya". Jawabku singkat.
"Atau
jangan-jangan pacarnya. hehe..." tambah mas pemilik toko tersebut.
"Haa
:o !!!" (ekspresi terkejut)
Selepas
itu aku segera angkat kaki dari toko tersebut. Rasa sebel bercampur bedmood
tiba-tiba menyerang jiwaku. Aku tak habis fikir, bisa-bisanya mas itu menyebut
sohibku sebagai pacarku. Sumapah, geli banget rasanya telinga ini mendengar
perkataan mas pemilik toko itu. Aku dan Mega selama di kampus memang tak terpisahkan.
kita selalu bersama, berangkat kuliah dan pulang pun bersama. Jajan dan nongkrong
pun juga bersama. Jalan pun kita selalu berdua. Tapi bukan berarti karena itu
kita bisa di bilang pacaran kan???
Entahlah
aku tidak bisa menerka bagai mana pola fikir mas pemilik toko tersebut. Atau
mungkin aku aja yang terlalu sensitive, apa lagi suhu udara yang begitu
menyengat membuat hatiku jadi muda tersinggung. Sehingga guyonan kecil yang mas
pemilik toko tersebut lontarkan padaku terasa bagai cemoohan yang pahit. Mungkin
memang aku sebaiknya berlatih untuk selalu bersikap ramah dan pandai mengolah
hati. Agar canda-canda kecil dari orang terasah renyah di telinga. Tidak justru
seolah empedu yang tumpah ruah di hati. Selain itu, mungkin pula aku juga harus
sedikit membatasi ke dekatanku dengan si sohibku. Sebab, kebiasaan kami jalan
sambil bergandengan tangan sepertinya menjadi pemandangan yang tidak wajar
bagai sebagian orang. Walau sesungguhnya sikap tersebut tak lebih dari rasa
kasih seorang sahabat terhadap sahabatnya.
Terakhir,
aku menyimpulkan. Dalam hidup ini kita tidak bisa memandang suatu hal melalui
satu sudut pandang saja. Namun kita harus menggunakan banyak sudut pandang
untuk melihat permasalahan hidup ini. Sebab, apa yang menurut sudut pandang
kita negatif bisa jadi sesutu yang positif dalam sudut pandang orang lain.
Seperti kisaku tadi. Aku mungkin melihat perkataan yang mas pemilik tok ujarkan
padaku seolah sindiran pahit. Namun bisa jadi sesungguhnya mas tersebut berniat
untuk mengingatkanku, agar aku lebih bersikap sewajarnya saja walaupun terhadap
sahabat sendiri. Supaya nantinya tidak menimbulkan presepsi yang negatif dari
mata-mata lain yang turut memandang pula kedekatan kita.
Surabaya,
17 Maret 2015
Sefti
Ika Wulansari
Bila Cinta Menikahlah
Bila cinta itu Bilangan
Maka real adalah
mulanya
Tentu termasuk bulat didalamnya
Sebab nilai Negative dan Positif pasti terkandung padanya
Tapi saat ijab-qobul
telah di ikrarkan
Bilangan Asli baginya
dan tak tergantikan
Karena hanya nilai
positif yang tertera
Begitulah kebenaranya
Saat cinta suami-istri
tercurah
Ia laksana lingkaran
yang tak berujung
Bagai bilangkan
pangkat takhingga
Dan tak terbagi
laksana Prima, kecuali 2 tentunya
Sepasang suami-istri
yang tak bersama
Sering kali hatinya
hampa
Ia merasa kosong
Tak menentu bagai
imajiner
Walau kiranya suami lama tak kunjung pulang,
Bagi sang istri cintanya
tak kan tumbang
Ia kan tegak, setegak
garis singgung lingkaran terhadap jari-jarinya
Tetap utuh, dan tak
terpecah bagai bilangan cacah
Itulah nikmatnya
Menjalin cinta dengan
ikatan yang sah ^_^
Rindu
Malam minggu tiada tugas, iseng-iseng buka buku eh.... nemu catatan puisiku di waktu masih nyantridulu. ceritanya ne, waktu itu saya lagi galau, karena pengen pulang. kangen rumah, kangen ibu bapak dan adik-adikku semua. akhirnya coret-coret kertas deh....
dan ini ne hasil coretanya... :)
Rindu
Kulihat dari cahaya bulan di pesantren
Serambiku kelam dan berudara sepi
Tiada suara tiada pula bayangan
Kecuali orang tuaku yang semuanya telah pergi
Terkadang terasa perlunya pulang kembali
Bercerita dan berkaca pada hari-hariku punya
Dirumahku yang penuh canda dan duka keluarga
Wahai ustad dan ustadzah kapan waktu itu kan tiba
Banjir bandang di raut wajah
Rasa rindu bercampur pilu
meratapi kehidupan yang pernah kujalani
Di pesantren yang buatku teguh hati
Ya Robbi...
Perkenankanlah kalbu ini tuk teguh
Menanti waktu yang ku tunggu
Tuk dapat bercerita kembali
Dengan insan yang kunanti
Ya Robbi...
Umi...
Abi...
Hapuslah duka ini
Dengan kembali bersamamu
Kembali kepangkuanmu
Malam minggu tiada tugas, iseng-iseng buka buku eh.... nemu catatan puisiku di waktu masih nyantri dulu. ceritanya ne, waktu itu saya lagi galau, karena pengen pulang. kangen rumah, kangen ibu bapak dan adik-adikku semua. akhirnya coret-coret kertas deh....
dan ini ne hasil coretanya... :)
Rindu
Kulihat dari cahaya bulan di pesantren
Serambiku kelam dan berudara sepi
Tiada suara tiada pula bayangan
Kecuali orang tuaku yang semuanya telah pergi
Terkadang terasa perlunya pulang kembali
Bercerita dan berkaca pada hari-hariku punya
Dirumahku yang penuh canda dan duka keluarga
Wahai ustad dan ustadzah kapan waktu itu kan tiba
Banjir bandang di raut wajah
Rasa rindu bercampur pilu
meratapi kehidupan yang pernah kujalani
Di pesantren yang buatku teguh hati
Ya Robbi...
Perkenankanlah kalbu ini tuk teguh
Menanti waktu yang ku tunggu
Tuk dapat bercerita kembali
Dengan insan yang kunanti
Ya Robbi...
Umi...
Abi...
Hapuslah duka ini
Dengan kembali bersamamu
Kembali kepangkuanmu
Belanja di akhir Flu
Assalamu’alaikum sobat bloger,
Alhamdulillah setelah lima hari terserang batuk pilek yang menurunkan kondisi kesehatan fisik, hari ini telah Allah beri kesembuhan atas itu semua. Dan lebih bersyukurnya lagi selama sakit perkuliahan selalu libur sehingga bisa membuat Sefti istirahat secara total selama flu menyerang. Dan alhamdulillahnya lagi ne sobat, di hari terakhir flu menyerang. tepatnya saat Sefti selesai ngajar ekskul di SMP Negri 29 Surabaya Sefti memperoleh gajian Sefti bulan ini. Akhirnya sepulang ngajar sefti dan tentunya with sahabat Sefti si Rochmatun Ni’mah terbang deh ke Robbany dan ITC. Hehe, biasa perempuan ngapain lagi kalau ndak belanja J
Sahabat bloger tahu ndak kita selesai ngajar jamberapa?
Jam 12.30 wib kita baru selesai ngajar. Pasca itu kita langsung terbang ke Robbany, karena kita dalam kondisi belum shalat, so pastilah… tujuan utama kita adalah mushollah. Setelah sholat telah kita tegakkan langsung deh uber barang-barang yang mau di beli. Kebetulan saat itu Robbany lagi ada chasbeck 100% jadi ya semangatnya nguber barang-barang luarbiasa. Haha J
Tapi berhubung dua hari lagi masa chasbeck 100% Robbany berakhir, jadi barang-barang yang di Robbany uda banyak di borong sama orang-orang di hari-hari sebelumya. Karena itu di Robbany sefti Cuma ngeluarin uang senilai Rp 20.000.00. nah sahabat sefti si ni’mah gag tau abis berapa, soalnya yang di borong lumayan juga sih, hehe .
Karena kurang puas belanja di Robbany, kita berdua cap cus lagi ke ITC. Saat nyampai di ITC adzan Ashar berlangsung, jadi tujuan utama kita setelah parkir montor adalah menghampiri mushollah buat menegagkan empat rakaat sholat Ashar. Setelah kewajiban telah di tunaikan, langsung deh kita ke area Muslimah, di sana temen Sefti masih semangat mborong kerudung dan kawan-kawanya. Sefti sih masih muter-muter binggung apa yang mau di beli. Sebab belum ada barang yang menarik hati Sefti. Setelah lama kita muter-muter akhirnya Sefti putusin mampir ke stand Wardah. Setelah usai membeli kebutuhan di wardah Sefti masih binggng juga apa yang mau Sefti beli setelah ini. Akhirnya Sefti berniat membeli mukenah tapi emang yang namanya sefti, nyari munekah dari lantai satu hingga lantai tiga dan turun ke lantai satu lagi tetep aja ndak menemukan mukenah yang berhasil menarik hati Sefti untuk di beli. Wal hasil tahu ndak apa yang Sefti beli setelah kelelahan belanja tapi tidak ada yang di beli selain saat mampir ke wardah. Sefti malah membeli ransel buat adek Sefti. Hehe, gag apa-apa lah kan sayang saudara. Lagian ransel adek juga uda waktunya untuk di ganti. Tapi emnag dasar adek sefti yang gitu tu, dia itu gag mau minta-minta keorang tua, pengenya orang tua sendiri yang peka. Sebagai kakak yang baik hati dan tidak sombong serta rajin menabung Sefti deh yang peka. J
Ceritanya itu, saat muter-muter sampek capek waktu cari mukenah sefti melihat ada tas ransel yang bagus, kuat dan cocoklah buat adek sefti yang kelas X . apa lagi merk nya juga polo classic. Bener-bener tuh tas berhasil membuat sefti mengeluarkan beberapa lembar uang dari isi dompet sefti, so pasti setelah proses tawar menawar yang sedikit panjang. Hehe
Setelah membeli tas tersebut mata Sefti mulai tertarik lagi pada sebuah sepatu berwarnah coklat. Iseng-iseng Sefti menghampiri stan sepatu tersebut. Di saat Sefti mengenakan sepatu berwarnah coklat yang cantik itu, kaki Sefti terlihat begitu manis, wal hasil terjadi deh proses tawar menawah berujung barter sepatu dengan selembar uang. Saat itu waktu uda nunjukkin pukul 17.00 kita mulai lelah dan akhirnya mutusin pulang, saat di stand arloji mata sefti tertarik lagi dengan Arloji yang begitu mungil dan manis. Emang mood belanja uda mulai muncul, di beli deh itu arlji. Hehe
Setelah dari stand arloji, kita bener-bener berazzam unntuk segera pulang, sebab kalau tidak begitu. Bisa-bisa ini uang di dompet akan terkuras habis. Dan akhirnya Sefti dan sobat Sefti yang cuss… keluar dari ITC dengan buah tangan dari robbani, wardah, ransel, sepatu dan terakhir arloji. Jangan tanya ya habis berapa, hehe
Dan akhirny pukul 18.00 wib sampailah Sefti di kamar kosan tercinta. Setelah itu segerah mandi dan sholat maghrib.
Gitu deh aktifitas belanja Sefti bulan ini…
Surat untuk Calon Suamiku
Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh
Bagaimanakah kabarmu saat ini?
Aku berharab Allah senantiasa menjagamu dari keteguhan iman
dan takwa
Walau mungkin kiranya sakit kini sedang engkau derita
Wahai calon imamku…
Sepertinya kini masih belum saatnya Allah satukan kita
Mungkin kita masih harus belajar banyak hal untuk menjadikan
bekal perjalanan cinta yang indah
Agar nanti saatnya tiba cinta kita menjadi cinta yang penuh
barokah
Duhai caon imamku…
Sepertinya engkau perlu tahu, ku adalah sosok yang
pencemburu
Maka ku harab ngkau senantiasa menjaga hatimu
Seperti halnya aku pun akan tetap menjaga hatiku sampai masa
nanti kita bertemu
Wahai calon imamku…
Ingin ku sampaikan padamu,
Aku bukan muslimah yang selembut khodijah, yang selalu tahu
bagai mana harus menyikapi suasana hatimu
Aku pun bukan seperti Aisyah yang cntik, cerdas dan lincah,
sehingga mampu memberikan kedamaian di hatimu
Atau bahkan seperti Fatimah yang tanguh dan penyabar, sehingga
mampu memotivasimu menjadi sebaik-baik imam
Namun ketahuilah wahai suamiku….
Bahwa dari sosok merekalah aku belajar untuk menjadi
pendamping tebaik bagimu
Dengan gengaman tanganmu yang lembut aku berusaha menjadi
khodijah untukmu
Dengan kesabaranmu aku belajar menjadi Aisyah yang mampu damaikan
suasana hatimu
Dan dengan semangatmu aku belajar kuat dan menjadi inspirator
keberhasilanmu
Wahai suamiku,…
Sungguh aku sangat mencintaimu,
Bantulah aku agar tidak menempatkanmu no satu di hatiku
Karena hanya Allohlah pemilik tempat itu
Duhai suamiku…
Jika nanti Alloh telah satuhkan kita
aku tak ingin apapun darimu, selain cintamu pada Alloh dan
dienmu sebagai bukti cintamu padaku
Bersabarlah kau dalam penantian ini
Karena inilah masa puasa kita, hingga nanti tiba saatnya waktu
berbuka
Waktu yang mengantarkan kita untuk terus bersama dalam
mengapai ridho-Nya
Surabaya, 22 Oktober 2014
Yang sangat mencintaimu
Sefti Ika Wulansari
Cintaku dan Ayat-Ayat Cinta-Nya
Ada sebuah cerita, cerita ini mengisahkan tentang isi hati
seorang mahasiswi semester tua. Ya semester tua, begitu sebutan umum bagai
mahasiswa yang masuk pada semester VI ke atas. Cerita ini bermula saat seorang mahasiswi, sebutlah ia
bernamah iffah. Ketika itu ia berada di semester II. Ia berfikir sedikit
mendalam. Ia memikirkan seperti apakah laki-laki yang kelak akan menjadi jodohnya. Ia sangat takut manakalah jodohnya adalah
laki-laki yang dangkal pengetahuanya mengenai Agama Islam. Ya tentu itulah yang
ia takutkan, karena ia adalah seorang mahasiswi muslim. Tapi ia berbeda dengan
mahasiswi pada umumnya. Jika kebanyakan mahasiswi mengingingkan pendamping
hidup yang bertampang keren, maco, kaya, atau yang berpendidikan tinggi. Minimal
setara dengan dia yang S1. Namun Iffah tidaklah demikian. Ia mengingkan, bahkan
sangat berharab suatu saat ia akan berjodoh dengan seseorang yang luas dan
dalam pengetahuan serta pemahamannya terhadap syariat Islam. Lebih-lebih jika
sang jodoh adalah laki-laki yang Takhfidul Qur'an. Ya begitulah Iffah dengan
harapan qalbunya.
Suatu hari ia bertekat menjadikan
dirinya sebagai seorang hafidzah. Ya seorang hafidzah. Ia teringat pada sebuah
ayat Al-Qur’an yang sangat mengiang di hatinya. Ayat Al-Qur'an yang menjanjikan
bahwasanya laki-laki yang baik adalah untuk perempuan yang baik, dan begitu
sebaliknya. Dari ayat itulah ia berfikir, jika ia mengharab jodoh yang soleh
lagi hafidz. Maka ia pun harus sholeha lagi hafidzah.
Sepertihalnya sebuah bunga yang
sedang mekar, tentu ada kumbang yang menghampiri. Begitulah Iffah, di usianya
yang ke 20 tahun. Tentu ada beberapa laki-laki yang mulai menghampiri. Ya, ada
diantara mereka laki-laki yang pintar dan tinggi pendidikanya, ada pula
laki-laki yang dalam pemahamanya terhadap Agama Islam. Serta ada juga laki-laki
yang kaya dan baik hati. Begitupun tak ketinggalan laki-laki yang tampan
wajahnya dan ramah perilakunya. Tapi entah mengapa tiada diantara mereka yang
sanggub menarik hati iffah, sigadis yang manis nan lembut ini. Entah mengapa
aku pun tak mengetahui sebabnya. Tapi satuhal yang aku tahu. Ya... satuhal, dan
aku yakin ini adalah alasan yang terkuat. Karena diantara laki-laki tersebut
tak ada dianta mereka yang hafidz Qur'an. Memang rasa memiliki seorang imam
hafidz sudah menancap dalam di palung hati iffah. Sehingga seperti apapun jenis
dan wujud laki-laki yang datang tak ada satu pun diantara mereka yg sanggub
walau sedikit mengoreskan sesuati di hati gadis manis ini.
Suatu hari, saat ia tetap menjaga
hatinya hanya untuk sang imam yang halal baginya. Saat ia tetap ikhtiar
menghafal ayat-ayat Cinta Tuhanya. Aku bertanya " Sobat, apakah engkau
tidak berkeinginan menjalin cinta yang halal dengan ikhwan-ikhwan yang selama
ini telah memberi rambu-rambu niat keseriusanya padamu?" . Ia pun menjawab
" tunggu sahabatku, aku rasa hati ini masih harus aku jaga dan ku
pertahankan keutuhanya. Aku masih belum usai kuliah, dan aku pun masih amat
sedikit menghafal Al-Qur-an. Ditambah pua aku rasa diantara mereka masih belum
ada hafidz Al-Qur'an" . Kembali aku pun bertanya " engkau tertarik
dengan dia yang tampan, tau adia yang kaya, atau mungkin dia yang cerdas lagi
tinggi pendidikanya. Sepertinya mereka mencintaimu..." . Kembali ia pun
menjawab " bagaimana mungkin aku bisa mencintainya, sudakah ia mencintai
Allah dan Kitab-Nya??? Bagaimana nantinya masa depanku dan keturunanku?? Aku
ingin anak-anakku nantinya menjadi penjaga kalamullah,
karena ada Ayat-ayat Allah yang melekat di hati dan otaknya. Dan bagaimana itu
bisa terjadi? Jika bukan dimulai dari orang tua yang hafidz dan hafidzah
terlebih dahulu". Diam dan tidak bisa berkata apa-apa diriku mendengar
jawabanya. Ya jawaban akhwat yang sombong pada dirinya sendiri. Tapi inilah
kesombongan yang memotivasi. Memotivasinya untuk mengapai harapan hidupnya
dalam mewujudkan keluarga sebagai penjaga Ayat-ayat Allah di jiwanya.
Saat semester VII telah tiba. Do'a yang terus dipanjatkan
dengan usaha yang istiqomah di dalam menjalankanya. Akhirnya Allah Ajwajallah
pun mengirimkan seorang pemuda yang datang mengetuk pintu rumahnya. Ya seorang
pemuda denga seorang lelaki berjengkot yang berwajah teduh.
Ketika pintu rumah dibuka dengan sopan, iffah bertanya sambil secepatnya menundukkan pandangan " waalaikumussalam, maaf adakah yang dapat saya batu".
Ketika pintu rumah dibuka dengan sopan, iffah bertanya sambil secepatnya menundukkan pandangan " waalaikumussalam, maaf adakah yang dapat saya batu".
" Saya ilham, dan ini ustad saya
ahmad Hidayatullah. Kami ingin menemui ayah anda". Jawab orang yang tepat
di hadapannya.
" Ow monggo masuk, ayah ada di
rumah, sebentar saya panggilkan. Silahkan duduk". Jawabnya sembari mempersilahkan dua tamunya duduk.
Ketika itu tante aminah ibu dari
iffah tidak lagi mengizinkan iffah menemui sang tamu. Ya begitu memang cara
keluarga Iffa menjaga putra-putrinya untuk tidak menjalain komunikasi dengan
lawanjenisnya tanpa adanya suatu keperluan penting. Setelah ayah iffah menemui kedua
tamu itu. Seperti biasa, rakhmad adik laki-laki iffah lah yang memberikan
minuman pada sang tamu. Dan selepas itu, ketika rakhmad mempersilahkan
tamu-tamu itu untuk menikmati hidangan yang telah di suguhkan, sang ayah
berbicara padanya " nak panggil ibumu kesini sebentar ", "Enjeh yah.. " Jawab rakhmad sambil
menganggukkan kepala dan meninggalkan tempat.
Didalam ruang tamu, saat obrolan telah beberapa menit
berlangsung, ibu aminah datang. Ayah Iffah pun segera berbicara " bu, ini
nak Ilham, dan ini ustad Ahmad pengajar pesantren Takhfidul Qur'an di jawa
tengah ".
" Oww
enjeh-enjeh... ". menganguk-angukkan kepala seolah memahami siapa orang
asing yang kini dihadapanya itu.
"Jadi ustad Ahmad ini adik dari ustad yusuf, mudirul
ma'had Iffah saat di pesantren dulu". Tambah ayah iffah.
" Oww,, lah terus punopo ustad
yusuf mboton turut tindak meriki" tanya ibu aminah pada ustad Ahmad.
" Enjeh bu, ustad Yusuf meniko
ngadah niat bade tindak sareng-sareng wonten meriki. Nanging mendadak ten
pesantren kang mas sakniki wonten tamu ndugi sumatra. Dadose mboten saget
sareng dateng meriki" . Jelas ustad yusuf.
" Enjeh buk, kan kemarin ustad
yusuf sudah bikin janji sama ayah kalau hari ini akan datang dengan adiknya dan
salah seorang santri dari pesantren adiknya, yaitu pesantren ustad Ahmad
ini."
" Enjeh bu, dados niat kulo
dateng meriki selaku wakil tiang sepuh ndugi santri kulo Arifin Ilahm bade
nyampek anken niatan santri kulo ingkang ngadai kekarepan nedi putri ibu
Izzatur Roiffah supados saget dados imam kangge putrinipun njenengan ".
Tutur ustad Ahmad dengan nadanya yang tenang dan angun.
" Owalah enjeh, lah ngapunten
sak derenge njeh, punopo kok tiang sepuh dateng nak ilham mboten sareng tidak
meriki. " Tanya ibu aminah.
" Jadi begini low bu, nak ilham
ini kan asline soko Sulawesi. Nah ayah lan ibune ndak bisa dateng. Kan jarak
sulawesi ke jawa itu ndak dekat toh bu, nah kondisi ayah lan ibu e nak ilham
ini pun sepuh. Jadi ndak bisa dateng toh. Niat te itu, yen nanti ada
persetujuan sama kita lan Iffahnya sendiri, ibu dan ayah nak ilham ini akan
datang kemari untuk lamaran dan sekalain aqad nikah. Kan kondisine nak ilham
ini di pesantrennya ustad Ahmad sebagai santri pengabdian, setelah kemarin
dapat beasiswa belajar di Madinah dr pesantren ustad Ahmad ini bu" . Jelas
ayah iffah.
" Owlaha,, nah ini nak Ilham pun
kenal nopo dereng kaleh iffah".
" Alhamdulillah, melihat sekilas
pernah bu. Mengenal juga sudah dari carita Ustad Yusuf. Semenjak saya masih
nyantri dulu ustad Ahmad sering mengajak saya silaturahim ke pesantren ustad
yusuf. Dari situ saya pernah melihat putri ibu. Kemudian saya tanya ke ustad
Ahmad. Eh ndak tahunya ustad Ahmad menceritakan ke ustad Yusuf kalau saya
pernah menanyakan perihal putri ibu. Nah semenjak saat itu, sedikit banyak saya
mengenal putri ibu dari ustad Yusuf. Karena biasanya bliau bercerita tentang
putri ibu pada saya dan ustad Ahmad ketika kami silaturohim ke pesantrennya.
Setelah saya lulus dari madinah, saat saya kembali berkunjung ke pesantren
ustad yusuf beberapa waktu lalu. Kembali saya berjumpa sekilas dengan putri
ibu. Dan dari pertemuan sekilas itu, saya ada perasaan yang ingin saya
sampaikan kepada ustad Ahmad dan ustad yusuf untuk membantu saya dalam niatan
mengkhitbah putri ibu. Karena cerita ustad yusuf telah memantabkan hati
saya."
" Nah begitu bu caritane..
" Tutur ayah aiffah.
" Ya Allah le... , ibu njumun
ngeringokno crito koe... "
" Njeh pun bu, saknini ibu
timbali Iffah, yek nopo tanggapane iffah. Sak piturute kan tergantung yek apa
iffah toh..." pinta ayah iffah
"Injeh pak... Injeh... "
Jawab bu aminah yang kemudia menghampiri iffah
Beberapa menit kemudian iffah menemui
mereka di ruang tamu.
" Ayow lengah ndok, ini nak
ilham. Dan yang ini ustad Ahmad. Bliau adik dari Ustad Yusuf, direktur pondokmu
dulu" jelas ayah iffah.
Iffah hanya mengangguk dan tetep
menundukkan pandangan, begitu pula dengan ilham yang mulai menundukkan
pandangan matanya saat kehadiran Iffah ke ruang tamu. Setelah beberapa menit perbincangan
berlanjut. Akhirnya sang ayah menanyakan bagaimana jawaban dari iffah.
" Makasih ayah selalu melibatkan
iffah dalam hal ini, kepada ustad Ahmad iffah juga mengucap terimakasih atas
kesediaannya menjadi penghubung antara akh Ilham dengan ayah. Dan kepada akh
ilham, iffah meminta waktu beberapa hari untuk menjawabnya. Dalam hal ini iffah
ndak bermaksud mengantungkan atau apa, iffah hanya meminta waktu untuk istikhoro.
InsyaAllah seminggu setelah ini iffah akan memberikan jawaban." Kembali
menunduk.
" Ndak apa-apa, itu perkara
sohih, mungkin iffah ingin bercengkrama terlebih dulu dengan Allah. Memang
begitu seharusnya. Libatkanlah Allah dalam mengambil keputusan. Apa lagi untuk
perkara yang sepenting ini. InsyaAllah Ilham berlapang dada menunggu, jangankan
dalam waktu seminggu sepuluh haripun insyaAllah ilham masih sabar menanti
jawaban. Bukan begitu ham..".Jawab ustad Ahmad sambil menepuk pahapemuda
itu dengan senyum manisnya.
Ya begitu memang suasana saat ini.
Ustad ahmad mencoba mencairkan ketegangan di hati pemuda bernama Ilham itu. Tak hanya ustad Ahmad, ayah
iffah pun turut berbicara menanggapi jawaban iffah. "Jadi itu keputusanmu ndok, ya sudah, sekarang kembali
kepada nak Ilham. Bagaimana nak ilham..". Sambil memberi senyum manis
pemuda itu menjawab, "injeh pak, begitu memang seharusnya. Selalu
Melibatkan Allah dalam menggambil keputasn. Maka ndak ada bagi saya alasan
untuk berberat hati".
"Alhamdulillah... Pun ini
minumnya di ujunjuk dulu.. Kue juga monggo di dahar, ini kue buatannya iffah
kemarin sore low". Sahut bu Aminah yang turut memecahkan ketegangan
suasana.
........---*_*---.......
Seminggu kemudian iffah menyampaikan jawaban atas kesediaannya menjadi makmum dari seorang pemuda yang seminggu lalu telah mengkhitbahnya.
Singkat cerita, akhirnya kedua keluarga dari pulau yang berbeda ini saling bertemu. Dalam proses lamaran ini, rupanya kedua bela pihak keluarga tak ingin memperlama waktu prosesi ijab-qabul. Sehingga waktu kesepakatan dilaksanakanya ijab - qabul pun segera ditetapkan. Dan resepsi pernikahan sederhana yang islami pun terjadi. Suatu ketika setelah pernikahan itu berlangsung. dengan menidurkan kepala diatas pangkuan sang istri, ilham bertanya kepada istrinya sembari berusaha menjadi suami yang romantis.
Seminggu kemudian iffah menyampaikan jawaban atas kesediaannya menjadi makmum dari seorang pemuda yang seminggu lalu telah mengkhitbahnya.
Singkat cerita, akhirnya kedua keluarga dari pulau yang berbeda ini saling bertemu. Dalam proses lamaran ini, rupanya kedua bela pihak keluarga tak ingin memperlama waktu prosesi ijab-qabul. Sehingga waktu kesepakatan dilaksanakanya ijab - qabul pun segera ditetapkan. Dan resepsi pernikahan sederhana yang islami pun terjadi. Suatu ketika setelah pernikahan itu berlangsung. dengan menidurkan kepala diatas pangkuan sang istri, ilham bertanya kepada istrinya sembari berusaha menjadi suami yang romantis.
"dindakau bagaimana bayangmu
jika ada malaikat-malaikat kecil yang meramaikan rumah sederhana kita
ini".
Dari pertanyaan itu tak ada jawaban
dari sang istri, selain beberapa air mata yang tiba-tiba menetes. Melihat tetesan air mata itu,
ilham seketika bangkit dari tidurnya dan membasuh airmata yang mencoba kembali
membasahi wajah istrinya.
" Sayang, kenapa denganmu.
Maafkan mas. Jika pertanyaan mas tadi melukai hatimu".
"Adik malu mas, adik malu sama
diri adik sendiri. 30 jus ayat-ayat Allah belum hatam adik hafalkan. Pantaskan
adik menjadi ibu yang memiliki harapan putra-putrinya sebagai penjaga Ayat-Ayat
Allah". titur sang istri dalam tangisnya.
" Sayang... Sekarang engkau
tidak sendiri. Mas akan membantumu menghafalkan Ayat-ayatNya. Ini tugas mas
sebagai suami. Kita akan bersama-sama menjadi orang tua penjaga Ayat-ayat
Allah, dan melahirkan generasi-generasi ghuroba yang hafidz dan hafidzah".
Sambil memegang kedua tangan istrinya dan kemudian membawa sang istri pada
dadanya dan merangkulnya dengan penuh cinta.



.jpg)

