Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Wahana Religi di Taman Bungkul
Taman Bungkul kota Surabaya adalah taman
kota yang tak kunjung sepi dari para pengunjung. Taman ini berbeda dengan taman
kota lainya. Disurabaya kita memang tidak akan kesulitan mencari taman sebagai
wahana singgah. Dan taman bungkul adalah salah satu alternative yang tepat
untuk di pilih. Karena selain menyuguhkan tempat singah berupa taman untuk have
fun, taman bungkul juga alternative yang cocok untuk wisata religi. Sebab
ditaman ini terdapat makam Ki Ageng Bungkul yang pun tak kunjung sepi dari para
pengunjung muslim yang hendak takziyah.
| Add caption |
| Add caption |
Sungguh, baru memasuki kawasan
awal saja kita sudah di tunjukkan berbagai kurofat yang apa bila kita
melakukanya akan menodai agama kita. Di dalam sana kita tidak seperti
pengunjung pada umumnya. Kebanyakan pengunjung melakukan ritual berupa ngaji
dan berdo’a di atas kuburan makam ini. Kita justru mendiskusikan beberapa hal
yang seharusnya di rubah dari menset para pengunjung makam ini. Tentu sudah
kita ketahui, kita di perbolehkan ziarah kubur dengan maksud refleksi diri. Mengingat
saat dimana nantinya kita akan mengalami masa seperti mereka-mereka yang saat
ini lebih dulu menempatai rumah penantian hari akhiri. Dan merenungi dosa-dosa kita selama ini. Bukan
malah di gunakan sebagai alternatif ibadah yang jelas-jelas tidak ada
tuntunanya dalam islam.
Namun sungguh memiliukan hati.
Karena di tempat ini justru di fasilitasi beberapa rak yang berisi Al-Qur’an.
Dan dari rak ini biasanya mereka mengambil Al-Qur’an untuk di gunakan mengaji
di samping kuburan kuburan tersebut. Padahal di masjid yang ada di dalam makam
ini kita tidak menjumpai Al-Qur’an. Namun mengapa di tengah-tengah pemakaman
justru di sediakan banyak Al-Qur’an. Sungguh ini adalah pemandangan yang sangat
menyayat qalbu.
Jangan Bersedih, Dan Jangan Membuat Sedih
Kali
ini sebenarnya saya tengah bersedih, karena seorang akhwat yang dahulunya dekat
sekali dengan saya kini sedikit demi sedikit ia menjauhi saya. ya begitu
sekiranya yang saya rasa. Entah mengapa, mungkin memang Allah yang
menghendakinya, agar saya sendiri dan lebih mendekat terhadapnya. Begitulah
cara saya menghibur hati ini.
Sedih
memang, namun tak ingin saya berlama-lama dalam kesedihan ini. Dan saya harus
segera menghapusnya. Sebab kesedihihan tak diajarkan dalam Islam, bahkan dalam
firman-Nya Allah SWT pun melarang.
“Dan, janganlah kamu bersikap lemah dan jangan
(pula) bersedih hati”
(QS.
Ali 'Imran: 139)
"Janganlah
bersedih atas mereka" (kalimat ini disebut berulangkali dalam
beberapa
ayat al-Quran) dan,
“Janganlah
kamu bersedih sesungguhnya Allah selalu bersama kita”
(QS.
At-Taubah: 40)
Penting
kita yakini, segala yang Ia larang tentu hanya untuk kebaikan kita. Karena Ia
maha tahu, baik atau buruknya atas apa-apa yang Ia ciptakan. Berlarut dalam
kesedihan tidak akan memberi dampak apa-apa selain rasa malas dan lunturnya
semangat. Karena kesedihan ibarat air yang dapat memadamkan kobaran api
semangat dan tekat. Ibarat salju yang dapat membekukan jiwa yang kukuh. Ibarat
demam yang ampuh membuat tubuh lemas tak berdaya.
Dan
tahukah kita, kesedihan adalah cahaya kebahagiaan bagi iblis. Karena kesedihan
adalah pintu masuknya syetan dalam jiwa seorang hamba. Maka dari itu, ia selalu
berupaya agar seorang hamba bersedih. Ia akan terus membujuk rayu hati kita untuk berlarut-larut
menghayati peristiwa kesedihan yang kita rasa. Agar setiap langkah kita
terhenti untuk bangkit dan kembali pada keceriaan yang mampu menanamkan kobaran
semangat dalam jiwa. Ini telah sebabnya mengapa Allah peringatkan kita dalam firman-Nya untuk
tidak berbisik-bisik (membicarakan rahasia dalam majelis).
“Sesungguhnya
pembicaraan rahasia itu adalah dari setan supaya orang-orang
mukmin
berduka cita”
(QS.
Al-Mujadilah: 10)
Mengapa
peringatan Allah demikian, sebab berbisik-bisik akan membuat sakit hati orang
disekitar kita. Misal kita tengah membicarakan perkara yang tidak ingin orang
lain mengetahui di tempat umum, hal ini dilarang, karena akan
mengerakkan hati kita untuk berbisik-bisik dalam membicarakanya. Akibatnya akan
menyakiti perasaan orang lain. Mungkin mereka kan merasa tidak dianggap (di
kucilkan), mungkin juga merasa aibnya dibicarakan. Akan banyak sekali
fitnah-fitnah kecil tumbuh setelahnya, dan bukankah sesuatu yang besar bermula
dari yang kecil? Lantas mengapa hal ini dapat terjadi? Semua itu karena
tersakitinya hati seseorang di antara kita. Maka janganlah kita melakukan hal
tersebut. Terlebih lagi jika kita sengaja berbicara atau sendau gurau dengan
mengabaikan satu kawan yang lain.
Dalam sebuah hadist, Dari Ibnu Umar, Rasul saw bersabdah:
“Apabila
dalam satu jama’ah (kumpulan) terdiri dari tiga orang, maka jangan berbisik dua
orang, hingga megabaikan orang ketiga”
(HR.
Bukhori-Muslim)
Tambahan dalam
riwayat Abu Daud :
{Abu Saleh berkata: tanyaku kepada umar “empat orang?”. Jawabnya: “tidak berbahaya”}
{Abu Saleh berkata: tanyaku kepada umar “empat orang?”. Jawabnya: “tidak berbahaya”}
Tambahan dalam
riwayat Malikndi dalam kitab Muwatha’ :
{Dari
Abdullah bin Dinar: “Aku dan Ibnu Umar berada dirumah Khalid bin Ukbah yang
berlokasi dipasar, lalu datanglah seorang pria hendak berbisik dengan Ibnu
Umar, padahal tiada seorang pun bersama Ibnu Umar selain aku. Maka ia memanggil
seseorang lagi, hingga menjadi genap 4 orang. Akhirnya ia berkata kepadaku dan orang yang baru datang
:”maaf, menyelisihi kalian berdua, sebab aku pernah mendengar Rasul saw
bersabdah: janganlah dua orang berbisik, sedang seseorang dibiarkan sendirian”.
(HR:
Malik)
Dari
Ibnu Mas’ud, Rasul saw, bersabdah:
“Apa
bila kamu bertiga (dalam kelompok), maka janganlah ada dua orang berbisik
meninggalkan orang ketiga seorang diri, hingga kalian membaur dengan
bnyak orang, sebab yang demikian itu membuat orang ketiga sedih seorang diri.”
(HR.
Bukhori-Muslim)
Dari
bebrapa hadist ini dapat kita simpulkan, bahwasanaya rasul saw. melarang kita
menyakiti perasaan saudara kita dengan membiarkannya seorang diri. Sehingga
meski kita berlima, berenam, bertujuh atau lebih maka janganlah kita berbicara
(ngobrol) dengan beberapa orang dan membiarkan yang lain seorang diri
Kesedihan
merupakan penyakit jiwa yang fatal, karenanya kita diperintahkan untuk
mengusirnya sejau mungkin dan senantiasa melawan serta menundukanya dengan
segala cara yang di syariatkan oleh Allah SWT . Bersedih tidak di diajarkan dalam
Islam, bahkan dilarangnya karena bersedih memang sangat tidak bermanfaat. Maka
dari itu Rasulullah saw senantiasa memohon perlindungan pada Allah unuk
dijauhkan dari kesedihan. Demikianlah do’a rosulullah :
اَللّÙ‡ُÙ…َّ
إنِّÙŠ أعُوذُبِÙƒَ Ù…ِÙ†َ الْÙ‡َÙ…ِّ ÙˆَالْØُزْÙ†ِ
"Ya
Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa sedih dan duka cita."
Kalimat Apakah Yang Harus Kita Ucapkan Manakala Idul Fitri Tiba?
Sebelumnya mari sejenak
kita simak kebiasaan masyarakat muslim di sekitar manakalah Idul Fitri telah
menyapa. “MINALAIDIN WAL FAIZIN - MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN”.Nampaknya kalimat
ini bukanlah sederet kata-kata yang tabu ditelinga masyarakat. Kalimat ini
seolah menjadi hujan yang membahasai hariraya idul fitri di tiap kali tibanya bulan
syawal. Entah darimana awal mula munculnya kalimat MINALAIDIN WAL FAIDZIN ini,
yang sebagian besar masyarakat mengangab kalimat ini memiliki arti MOHON MAAF
LAHIR DAN BATIN. Benarkah MINALAIDIN WAL FAIZIN memiliki arti MOHON MAAF LAHIR
DAN BATIN??? Mari kita telusuri arti yang sebenarnya dalam bahasa arab.
Bermula dari kata min
dalam minal menunjukkan arti “bagian dari sesuatu”, atau singkatnya “Termasuk”
Al-aidin, menunjukan arti ”Orang-orang yang kembali”
Wa, arinya “Dan”
Al-faidzin, artinya “Menang”.
maka makna "Minal Aidin Wal Faizin" jika dipaksakan artinya, kedalam kaidah bahasa Arab -
Indonesia yang benar adalah “Termasuk dari orang-orang yang kembali (dari perjuangan ramadhan)
sebagai orang yang menang”.
Tentu dapat kita pahami
sendiri bahwa arti “Minal Aidin Wal Faizin” yang memiliki arti “Termasuk dari orang-orang yang
kembali (dari perjuangan ramadhan) sebagai orang yang menang” merupakan sebuah kalimat yang
tidak sempurna. Dan tidak ada kaitanya sama sekali dengan MOHON MAAF LAHIR DAN
BATIN. Atau ungkapan dalam aktifitas saling bermaafan. Kalaupun “Minal Aidin
Wal Faizin” merupakan sebuah do’a, maka kalimat do’a ini merupakan kalimat do’a
yang tidak sempurnah. Sehingga tidak dapat dikatakan sebagai DO’A. Kecuali jika
ditambahkan di depan kalimat ini dengan kata “JA’ALANALLAAHU” yang memiliki
arti “semoga allah menjadikan kita”. Maka lengkapnya akan menjadi kalimat JA’ALANALLAAHU
MINAL ‘AIDIN WAL FAIZIN yang artinya “semoga Allah menjadikan kita bagian dari
orang-orang yang kembali (kepada ketaqwaan/kesucian) dan orang-orang yang
menang (dari melawan hawa nafsu dan memperoleh ridha Allah)”.
Jelaslah. Meskipun
demikian, kalimat ini tetap tidak ada kaitanya sama sekali dengan aktifitas
bermaafan. Melainkan sebuah DO’A yang sudah seharusnya kita aamiinkan.
Lantas bagaimana
sebaiknya kalimat yang musti kita ucapkan ??
Dalam sebuah hadist, Jubair bin Nufair berkata:
“Para sahabat Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bila bertemu pada hari raya, maka berkata sebagian mereka
kepada yang lainnya : Taqabbalallahu minnaa wa minka (Semoga Allah menerima
dari kami dan darimu)”. (Al Hafidh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari [2/446] Dalam 'Al
Mahamiliyat' dengan Isnad yang Hasan )
dan, “Dari Khalid bin Ma’dan ra berkata, ‘aku menemui Watsilah bin
al-Aqsa’ pada hari ‘Ied lalu aku mengatakan Taqobbalalla Minna Wa Minka.’
Kemudian Watsilah berkata, ‘Aku menemui Rasulullah pada hari ‘Ied, lalu aku
mengucapkan Taqobbalalla Minna Wa Minka (Semoga Allah menerima amal ibadah kita
dan kamu). Kemudian Rasulullah menjawab Ya, Taqobbalalla Minna Wa Minka‘”
(HR. Baihaqi dalam Sunan Kubra, No. 6088).
Maka sesungguhnya
sebagai umat rosulullah yang senantiasa menjalankan sunnahnya cukuplah bagi
kita mengucapkan:
1.
Taqabbalallahu minnaa
wa minka, yang artinya “Semoga Allah menerima dari kami dan darimu (Laki-laki)”
manakalah kita ingin mengucapkan pada saudara muslim laki-laki.
2.
Taqabbalallahu minnaa
wa minki, yang artinya “Semoga Allah menerima dari kami dan darimu (perempuan)”
manakalah kita mengucapkan pada saudara muslim perempuan.
3.
Taqabbalallahu minnaa
wa minkum, yang artinya “Semoga Allah menerima dari kami dan kamu (jama’=
banyak, termasuk ada laki-laki dan perempuan).
Namun demeikian beberapa shahabat menambahkan ucapan “SHIYAMANA WA
SHIYAMAKUM”, yang artinya “puasaku dan puasa kalian”. Setelah kalimat TAQABBALALLAHU MINNAA
WA MINKA KUM. Jadi ucapan ini BUKAN dari Rasulullah, melainkan dari
para sahabat.
Bukan suatu keharaman pula manakalah lidah kita terbiasa dengan
kalimat “Minal Aidin Wal Faizin" kemudian kita menambahkan kalimat tersebut
dalam pengucapan kita. Karena kalaimat tersebut merupakan Do’a. Namun kembali
pada penjelasan saya diatas, agar kalaimatnya sesuai dengan tatanan bahasa arab
maka sebaiknya pengunaan kalimat yang benar adalah:
“TAQABBALALLAHU MINNAA WA MINKA KUM. SHIYAMANA WA
SHIYAMAKUM. JA’ALANALLAAHU MINAL ‘AIDIN WAL FAIZIN”
Perlu kita pahami, bahwasanya pada ada diri setiapa muslim, ungkapan-ungkapan ini bisa saja sangat
berbeda, tergantung kreatifitasya sendiri dalam mengungkapkan rasa minta
maafnya.
Sekedar tambahan
pula, manakala kita ingin mengucapkan “mohon maaf lahir dan batin” dalam bahasa
arab yang benar? Salah satunya adalah “As-alukal afwan zahiran wa
bathina." Atau "Kullu aam wa antum bikhair", yang berarti
semoga sepanjang tahun Anda dalam keadaan baik-baik “, dan, sekali lagi Bukan
Minal Aidin wal Faizin” karena kata ini bukan berarti Kalimat permintaan Maaf. Melainkan
hanya sebuah do’a yang tidak utuh.
Kebenaran hanyalah milik Alloh SWT. Dalam hal
ini penulis hanya menyampaikan apa yang penulis selama ini pahami. Manakalah terdapat
kesalahan dalam penulisan ini, kemudian para sahabat muslim bersedia
membenarkanya demi meluruskan sebuah kebenaran yang memang seharusnya
ditegakkan. Maka penulis sampaikan “Syukron katsiron ,Jazakumullah
khayran.”
Diam Itu Emas
Dalam sebuah balagho mungkin pernah kita mendengar kalimat "Diam itu Emas". Agaknya kalimat itu sangat tepat bila di terapkan. Satu dari sekian ribu orang biasanya tidak sedikit dari mereka yang sulit memenejemen lidahnya, sehingga kadang kalah ketika ia berbicara dengan seseorang tak jarang perselisihan terjadi di dalamnya. Dalam keadaan seperti ini, dimana api mulai terpecik jangan malah disulit, namun padamkan. bila tidak mampu Diam itu lebih menyelamatkan. inilah Mengapa Diam itu Emas.
Dalam balagho lain, Yazid bin Abu Habib menguatkan "Di antara fitnah orang yang berilmu (orang alim) ialah berkata-kata lebih disukai daripada mendengar. Padahal mendengar itu lebih selamat daripada berkata-kata kerana dalam berkata-kata orang cenderung untuk mengisi, menambah dan mengurangi".

