Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Wahana Religi di Taman Bungkul


 Taman Bungkul kota Surabaya adalah taman kota yang tak kunjung sepi dari para pengunjung. Taman ini berbeda dengan taman kota lainya. Disurabaya kita memang tidak akan kesulitan mencari taman sebagai wahana singgah. Dan taman bungkul adalah salah satu alternative yang tepat untuk di pilih. Karena selain menyuguhkan tempat singah berupa taman untuk have fun, taman bungkul juga alternative yang cocok untuk wisata religi. Sebab ditaman ini terdapat makam Ki Ageng Bungkul yang pun tak kunjung sepi dari para pengunjung muslim yang hendak takziyah.

Add caption
Add caption
Dalam kunjungan ke sana kita tidak mendapat terlalu banyak informasi mengenai makam ini, sebab sang juru kunci makam cukup tertutup saat kita hendank menguak sedikit tentang makam tersebut. Yang jelas setelah memasuki pintu gerbang makam ini kita akan mendapati sebuah masjid. Masjid ini di kelilingi oleh puluhan kuburan derbalut kain putih. Entah ada berapa jumlah kuburan di sana yang jelas jumlahnya puluhan. 
Saat memasuki area yang di ini, kita akan menyaksikan ada tidak sedikit pemandangan yang cukup menarik untuk di diskusikan. Di antaraya adalah sebuah tampah. Tampah yang biasanya di gunakan sebagai alat untuk meisahkan bulir beras dengan sisah kulitya, di sini di pergunakan sebagai tempat peletakan uang sodaqoh. Kemudian selain dari pada itu, di sini juga terdapat delapan buah kendi yang berisi air mujarab “katanya”. Pengunjung berkata dengan meminum air dalam gelas ini maka riski kita akan lancar, penyakit kita akan sembuh, kita akan di jauhkan dari sial dan masih banyak katanya-katanya yang lain jika kita meminum air kendi ini.
 Sungguh, baru memasuki kawasan awal saja kita sudah di tunjukkan berbagai kurofat yang apa bila kita melakukanya akan menodai agama kita. Di dalam sana kita tidak seperti pengunjung pada umumnya. Kebanyakan pengunjung melakukan ritual berupa ngaji dan berdo’a di atas kuburan makam ini. Kita justru mendiskusikan beberapa hal yang seharusnya di rubah dari menset para pengunjung makam ini. Tentu sudah kita ketahui, kita di perbolehkan ziarah kubur dengan maksud refleksi diri. Mengingat saat dimana nantinya kita akan mengalami masa seperti mereka-mereka yang saat ini lebih dulu menempatai rumah penantian hari akhiri.  Dan merenungi dosa-dosa kita selama ini. Bukan malah di gunakan sebagai alternatif ibadah yang jelas-jelas tidak ada tuntunanya dalam islam.
Menuju ke gerbang kedua area makam bungkul ini kita akan menjumpai tempat yang di anggab sangat suci. Di dalam sini kita tidak di perkenankan menggunakan alas kaki. Tempat ini sangat di hormati dan di jaga kesucianya. Saat memasuki tempat ini, kita akan mencium aroma wangi yang semerbak. Dan yang lebih mengenaskan lagi, di tempat ini kita akan menjumpai orang-orang tengah berdo’a memohon segala kebaikan dan rizki serta mengaji alqur’an di sekitar kuburan. Sungguh hanya pemandangan memilukan yang kita lihat dari para gengunjung di tempat ini. Sesungguhnya kita yang berada di sini memiliki keyakinan yang sama. Hanya saja mereka sepertinya belum memahami Islam secara baik dan benar. Sehingga segala bid’ah kurofat dan tahayul melekat kuat di jiwa mereka. Walaupaun telah terpapang jelas larangan mengenai hal tersebut. Tetapi mereka tidak menghiraukanya, sebab keyakinan yang keliru itu telah menguat dengan hati. Seperti tulisan dalam gambar di samping. Tulisan itu terpampang jelas dan besar di area makam yang di anggab suci di tempat ini. tentu maksud dan tujuanya adalah mengingatkan pengunjung agar tidak melakukan perkara - perkaya yang menyimpang dari ajaran islam. Karena hanya kepada Allohlah seharunya tempat kita meminta.




Surabaya - Taman Bungkul kota Surabaya adalah taman kota yang tak kunjung sepi dari para pengunjung. Taman ini berbeda dengan taman kota lainya. Disurabaya kita memang tidak akan kesulitan mencari taman sebagai wahana singgah. Dan taman bungkul adalah salah satu alternative yang tepat untuk di pilih. Karena selain menyuguhkan tempat singah berupa taman untuk have fun, taman bungkul juga alternative yang cocok untuk wisata religi. Sebab ditaman ini terdapat makam Ki Ageng Bungkul yang pun tak kunjung sepi dari para pengunjung muslim yang hendak takziyah.
Dalam kunjungan ke sana kita tidak mendapat terlalu banyak informasi mengenai makam ini, sebab sang juru kunci makam cukup tertutup saat kita hendank menguak sedikit tentang makam tersebut. Yang jelas setelah memasuki pintu gerbang makam ini kita akan mendapati sebuah masjid. Masjid ini di kelilingi oleh puluhan kuburan derbalut kain putih. Entah ada berapa jumlah kuburan di sana yang jelas jumlahnya puluhan.
            Saat memasuki area yang di ini, kita akan menyaksikan ada tidak sedikit pemandangan yang cukup menarik untuk di diskusikan. Di antaraya adalah sebuah tampah. Tampah yang biasanya di gunakan sebagai alat untuk meisahkan bulir beras dengan sisah kulitya, di sini di pergunakan sebagai tempat peletakan uang sodaqoh. Kemudian selain dari pada itu, di sini juga terdapat delapan buah kendi yang berisi air mujarab “katanya”. Pengunjung berkata dengan meminum air dalam gelas ini maka riski kita akan lancar, penyakit kita akan sembuh, kita akan di jauhkan dari sial dan masih banyak katanya-katanya yang lain jika kita meminum air kendi ini.
            Sungguh, baru memasuki kawasan awal saja kita sudah di tunjukkan berbagai kurofat yang apa bila kita melakukanya akan menodai agama kita. Di dalam sana kita tidak seperti pengunjung pada umumnya. Kebanyakan pengunjung melakukan ritual berupa ngaji dan berdo’a di atas kuburan makam ini. Kita justru mendiskusikan beberapa hal yang seharusnya di rubah dari menset para pengunjung makam ini. Tentu sudah kita ketahui, kita di perbolehkan ziarah kubur dengan maksud refleksi diri. Mengingat saat dimana nantinya kita akan mengalami masa seperti mereka-mereka yang saat ini lebih dulu menempatai rumah penantian hari akhiri.  Dan merenungi dosa-dosa kita selama ini. Bukan malah di gunakan sebagai alternatif ibadah yang jelas-jelas tidak ada tuntunanya dalam islam.
 Menuju ke gerbang kedua area makam bungkul ini kita akan menjumpai tempat yang di anggab sangat suci. Di dalam sini kita tidak di perkenankan menggunakan alas kaki. Tempat ini sangat di hormati dan di jaga kesucianya. Saat memasuki tempat ini, kita akan mencium aroma wangi yang semerbak. Dan yang lebih mengenaskan lagi, di tempat ini kita akan menjumpai orang-orang tengah berdo’a memohon segala kebaikan dan rizki serta mengaji alqur’an di sekitar kuburan. Sungguh hanya pemandangan memilukan yang kita lihat dari para gengunjung di tempat ini. Sesungguhnya kita yang berada di sini memiliki keyakinan yang sama. Hanya saja mereka sepertinya belum memahami Islam secara baik dan benar. Sehingga segala bid’ah kurofat dan tahayul melekat kuat di jiwa mereka. Walaupaun telah terpapang jelas larangan mengenai hal tersebut. Tetapi mereka tidak menghiraukanya, sebab keyakinan yang keliru itu telah menguat dengan hati. Seperti tulisan dalam gambar di samping. Tulisan itu terpampang jelas dan besar di area makam yang di anggab suci di tempat ini. tentu maksud dan tujuanya adalah mengingatkan pengunjung agar tidak melakukan perkara - perkaya yang menyimpang dari ajaran islam. Karena hanya kepada Allohlah seharunya tempat kita meminta.
Namun sungguh memiliukan hati. Karena di tempat ini justru di fasilitasi beberapa rak yang berisi Al-Qur’an. Dan dari rak ini biasanya mereka mengambil Al-Qur’an untuk di gunakan mengaji di samping kuburan kuburan tersebut. Padahal di masjid yang ada di dalam makam ini kita tidak menjumpai Al-Qur’an. Namun mengapa di tengah-tengah pemakaman justru di sediakan banyak Al-Qur’an. Sungguh ini adalah pemandangan yang sangat menyayat qalbu.
Namun demikian, tidak semudah membalikkan tangan mengubah pemikiran para pengunjung dan orang-orang di sekitar makam ini untuk tidak melakukan hal-hal yang di larang oleh agama kita berkaitan dengan aktifitas takziah.  Sebab hal-hal semacam ini sudah menjadi budaya bagai mereka ketika datang ke makam bungkul. Semoga kita para generasi dan pendidik anak bangsa bisa meluruskan  calon-calon kaum muda untuk menguaatkan ketauhidan mereka kepada Alloh. Sehingga tidak begitu muda mengikuti perkara bida’ah tahayul dan curofat yang banyak menyebar di masyarakat.






Kamis, 23 Juni 2016
Posted by Unknown
Tag :

Jangan Bersedih, Dan Jangan Membuat Sedih

Kali ini sebenarnya saya tengah bersedih, karena seorang akhwat yang dahulunya dekat sekali dengan saya kini sedikit demi sedikit ia menjauhi saya. ya begitu sekiranya yang saya rasa. Entah mengapa, mungkin memang Allah yang menghendakinya, agar saya sendiri dan lebih mendekat terhadapnya. Begitulah cara saya menghibur hati ini.
Sedih memang, namun tak ingin saya berlama-lama dalam kesedihan ini. Dan saya harus segera menghapusnya. Sebab kesedihihan tak diajarkan dalam Islam, bahkan dalam firman-Nya Allah SWT pun melarang.

Dan, janganlah kamu bersikap lemah dan jangan (pula) bersedih hati”
(QS. Ali 'Imran: 139)
"Janganlah bersedih atas mereka" (kalimat ini disebut berulangkali dalam
beberapa ayat al-Quran) dan,
“Janganlah kamu bersedih sesungguhnya Allah selalu bersama kita”
(QS. At-Taubah: 40)

Penting kita yakini, segala yang Ia larang tentu hanya untuk kebaikan kita. Karena Ia maha tahu, baik atau buruknya atas apa-apa yang Ia ciptakan. Berlarut dalam kesedihan tidak akan memberi dampak apa-apa selain rasa malas dan lunturnya semangat. Karena kesedihan ibarat air yang dapat memadamkan kobaran api semangat dan tekat. Ibarat salju yang dapat membekukan jiwa yang kukuh. Ibarat demam yang ampuh membuat tubuh lemas tak berdaya.
Dan tahukah kita, kesedihan adalah cahaya kebahagiaan bagi iblis. Karena kesedihan adalah pintu masuknya syetan dalam jiwa seorang hamba. Maka dari itu, ia selalu berupaya agar seorang hamba bersedih. Ia akan terus  membujuk rayu hati kita untuk berlarut-larut menghayati peristiwa kesedihan yang kita rasa. Agar setiap langkah kita terhenti untuk bangkit dan kembali pada keceriaan yang mampu menanamkan kobaran semangat dalam jiwa. Ini telah sebabnya mengapa  Allah peringatkan kita dalam firman-Nya untuk tidak berbisik-bisik (membicarakan rahasia dalam majelis).

“Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari setan supaya orang-orang
mukmin berduka cita”
(QS. Al-Mujadilah: 10)

Mengapa peringatan Allah demikian, sebab berbisik-bisik akan membuat sakit hati orang disekitar kita. Misal kita tengah membicarakan perkara yang tidak ingin orang lain mengetahui di tempat umum, hal ini dilarang, karena akan mengerakkan hati kita untuk berbisik-bisik dalam membicarakanya. Akibatnya akan menyakiti perasaan orang lain. Mungkin mereka kan merasa tidak dianggap (di kucilkan), mungkin juga merasa aibnya dibicarakan. Akan banyak sekali fitnah-fitnah kecil tumbuh setelahnya, dan bukankah sesuatu yang besar bermula dari yang kecil? Lantas mengapa hal ini dapat terjadi? Semua itu karena tersakitinya hati seseorang di antara kita. Maka janganlah kita melakukan hal tersebut. Terlebih lagi jika kita sengaja berbicara atau sendau gurau dengan mengabaikan satu kawan yang lain.

Dalam sebuah hadist, Dari Ibnu Umar, Rasul saw bersabdah:
“Apabila dalam satu jama’ah (kumpulan) terdiri dari tiga orang, maka jangan berbisik dua orang, hingga megabaikan orang ketiga”
(HR. Bukhori-Muslim)

Tambahan dalam riwayat Abu Daud :
{Abu Saleh berkata: tanyaku kepada umar “empat orang?”. Jawabnya: “tidak berbahaya”}
Tambahan dalam riwayat Malikndi dalam kitab Muwatha’ :
{Dari Abdullah bin Dinar: “Aku dan Ibnu Umar berada dirumah Khalid bin Ukbah yang berlokasi dipasar, lalu datanglah seorang pria hendak berbisik dengan Ibnu Umar, padahal tiada seorang pun bersama Ibnu Umar selain aku. Maka ia memanggil seseorang lagi, hingga menjadi genap 4 orang. Akhirnya  ia berkata kepadaku dan orang yang baru datang :”maaf, menyelisihi kalian berdua, sebab aku pernah mendengar Rasul saw bersabdah: janganlah dua orang berbisik, sedang seseorang dibiarkan sendirian”.
(HR: Malik)

Dari Ibnu Mas’ud, Rasul saw, bersabdah:
“Apa bila kamu bertiga (dalam kelompok), maka janganlah ada dua orang berbisik meninggalkan orang ketiga seorang diri, hingga kalian membaur dengan bnyak orang, sebab yang demikian itu membuat orang ketiga sedih seorang diri.”
(HR. Bukhori-Muslim)

Dari bebrapa hadist ini dapat kita simpulkan, bahwasanaya rasul saw. melarang kita menyakiti perasaan saudara kita dengan membiarkannya seorang diri. Sehingga meski kita berlima, berenam, bertujuh atau lebih maka janganlah kita berbicara (ngobrol) dengan beberapa orang dan membiarkan yang lain seorang diri
Kesedihan merupakan penyakit jiwa yang fatal, karenanya kita diperintahkan untuk mengusirnya sejau mungkin dan senantiasa melawan serta menundukanya dengan segala cara yang di syariatkan oleh Allah SWT . Bersedih tidak di diajarkan dalam Islam, bahkan dilarangnya karena bersedih memang sangat tidak bermanfaat. Maka dari itu Rasulullah saw senantiasa memohon perlindungan pada Allah unuk dijauhkan dari kesedihan. Demikianlah do’a rosulullah :
اَللّÙ‡ُÙ…َّ إنِّÙŠ أعُوذُبِÙƒَ Ù…ِÙ†َ الْÙ‡َÙ…ِّ ÙˆَالْØ­ُزْÙ†ِ
"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa sedih dan duka cita."




Selasa, 02 September 2014
Posted by Unknown
Tag :

Kalimat Apakah Yang Harus Kita Ucapkan Manakala Idul Fitri Tiba?


Sebelumnya mari sejenak kita simak kebiasaan masyarakat muslim di sekitar manakalah Idul Fitri telah menyapa. “MINALAIDIN WAL FAIZIN - MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN”.Nampaknya kalimat ini bukanlah sederet kata-kata yang tabu ditelinga masyarakat. Kalimat ini seolah menjadi hujan yang membahasai hariraya idul fitri di tiap kali tibanya bulan syawal. Entah darimana awal mula munculnya kalimat MINALAIDIN WAL FAIDZIN ini, yang sebagian besar masyarakat mengangab kalimat ini memiliki arti MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN. Benarkah MINALAIDIN WAL FAIZIN memiliki arti MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN??? Mari kita telusuri arti yang sebenarnya dalam bahasa arab.

Bermula dari kata min dalam minal menunjukkan arti “bagian dari sesuatu”, atau singkatnya “Termasuk”

Al-aidin, menunjukan arti ”Orang-orang yang kembali
Wa, arinya “Dan
Al-faidzin, artinya “Menang”.
maka makna "Minal Aidin Wal Faizin" jika dipaksakan artinya, kedalam kaidah bahasa Arab - Indonesia yang benar adalah “Termasuk dari orang-orang yang kembali (dari perjuangan ramadhan) sebagai orang yang menang”.
Tentu dapat kita pahami sendiri bahwa arti “Minal Aidin Wal Faizin” yang memiliki arti “Termasuk dari orang-orang yang kembali (dari perjuangan ramadhan) sebagai orang yang menang” merupakan sebuah kalimat yang tidak sempurna. Dan tidak ada kaitanya sama sekali dengan MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN. Atau ungkapan dalam aktifitas saling bermaafan. Kalaupun “Minal Aidin Wal Faizin” merupakan sebuah do’a, maka kalimat do’a ini merupakan kalimat do’a yang tidak sempurnah. Sehingga tidak dapat dikatakan sebagai DO’A. Kecuali jika ditambahkan di depan kalimat ini dengan kata “JA’ALANALLAAHU” yang memiliki arti “semoga allah menjadikan kita”. Maka lengkapnya akan menjadi kalimat JA’ALANALLAAHU MINAL ‘AIDIN WAL FAIZIN yang artinya “semoga Allah menjadikan kita bagian dari orang-orang yang kembali (kepada ketaqwaan/kesucian) dan orang-orang yang menang (dari melawan hawa nafsu dan memperoleh ridha Allah)”.
Jelaslah. Meskipun demikian, kalimat ini tetap tidak ada kaitanya sama sekali dengan aktifitas bermaafan. Melainkan sebuah DO’A yang sudah seharusnya kita aamiinkan.

Lantas bagaimana sebaiknya kalimat yang musti kita ucapkan ??


Dalam sebuah hadist, Jubair bin Nufair berkata:
Para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bila bertemu pada hari raya, maka berkata sebagian mereka kepada yang lainnya : Taqabbalallahu minnaa wa minka (Semoga Allah menerima dari kami dan darimu)”. (Al Hafidh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari [2/446] Dalam 'Al Mahamiliyat' dengan Isnad yang Hasan )

dan, “Dari Khalid bin Ma’dan ra berkata, ‘aku menemui Watsilah bin al-Aqsa’ pada hari ‘Ied lalu aku mengatakan Taqobbalalla Minna Wa Minka.’ Kemudian Watsilah berkata, ‘Aku menemui Rasulullah pada hari ‘Ied, lalu aku mengucapkan Taqobbalalla Minna Wa Minka (Semoga Allah menerima amal ibadah kita dan kamu). Kemudian Rasulullah menjawab Ya, Taqobbalalla Minna Wa Minka‘” (HR. Baihaqi dalam Sunan Kubra, No. 6088).

Maka sesungguhnya sebagai umat rosulullah yang senantiasa menjalankan sunnahnya cukuplah bagi kita mengucapkan:
1.     Taqabbalallahu minnaa wa minka, yang artinya “Semoga Allah menerima dari kami dan darimu (Laki-laki)” manakalah kita ingin mengucapkan pada saudara muslim laki-laki.
2.     Taqabbalallahu minnaa wa minki, yang artinya “Semoga Allah menerima dari kami dan darimu (perempuan)” manakalah kita mengucapkan pada saudara muslim perempuan.
3.     Taqabbalallahu minnaa wa minkum, yang artinya “Semoga Allah menerima dari kami dan kamu (jama’= banyak, termasuk ada laki-laki dan perempuan).
Namun demeikian beberapa shahabat menambahkan ucapan “SHIYAMANA WA SHIYAMAKUM”, yang artinya “puasaku dan puasa kalian”. Setelah kalimat TAQABBALALLAHU MINNAA WA MINKA KUM. Jadi ucapan ini BUKAN dari Rasulullah, melainkan dari para sahabat.
Bukan suatu keharaman pula manakalah lidah kita terbiasa dengan kalimat “Minal Aidin Wal Faizin" kemudian kita menambahkan kalimat tersebut dalam pengucapan kita. Karena kalaimat tersebut merupakan Do’a. Namun kembali pada penjelasan saya diatas, agar kalaimatnya sesuai dengan tatanan bahasa arab maka sebaiknya pengunaan kalimat yang benar adalah:
“TAQABBALALLAHU MINNAA WA MINKA KUM. SHIYAMANA WA SHIYAMAKUM. JA’ALANALLAAHU MINAL ‘AIDIN WAL FAIZIN”
Perlu kita pahami, bahwasanya pada ada diri setiapa  muslim, ungkapan-ungkapan ini bisa saja sangat berbeda, tergantung kreatifitasya sendiri dalam mengungkapkan rasa minta maafnya.
Sekedar  tambahan pula, manakala kita ingin mengucapkan “mohon maaf lahir dan batin” dalam bahasa arab yang benar? Salah satunya adalah “As-alukal afwan zahiran wa bathina." Atau "Kullu aam wa antum bikhair", yang berarti semoga sepanjang tahun Anda dalam keadaan baik-baik “, dan, sekali lagi Bukan Minal Aidin wal Faizin” karena kata ini bukan berarti Kalimat permintaan Maaf. Melainkan hanya sebuah do’a yang tidak utuh.
Kebenaran hanyalah milik Alloh SWT. Dalam hal ini penulis hanya menyampaikan apa yang penulis selama ini pahami. Manakalah terdapat kesalahan dalam penulisan ini, kemudian para sahabat muslim bersedia membenarkanya demi meluruskan sebuah kebenaran yang memang seharusnya ditegakkan. Maka penulis sampaikan “Syukron katsiron ,Jazakumullah khayran.”

Rabu, 07 Agustus 2013
Posted by Unknown
Tag :

Diam Itu Emas


Dalam sebuah balagho mungkin pernah kita mendengar kalimat "Diam itu Emas". Agaknya kalimat itu sangat tepat bila di terapkan. Satu dari sekian ribu orang biasanya tidak sedikit dari mereka yang sulit memenejemen lidahnya, sehingga kadang kalah ketika ia berbicara dengan seseorang tak jarang perselisihan terjadi di dalamnya. Dalam keadaan seperti ini, dimana api mulai terpecik jangan malah disulit, namun padamkan. bila tidak mampu Diam itu lebih menyelamatkan. inilah Mengapa Diam itu Emas.

Dalam balagho lain, Yazid bin Abu Habib menguatkan "Di antara fitnah orang yang berilmu (orang alim) ialah berkata-kata lebih disukai daripada mendengar. Padahal mendengar itu lebih selamat daripada berkata-kata kerana dalam berkata-kata orang cenderung untuk mengisi, menambah dan mengurangi". 


Rabu, 15 Mei 2013
Posted by Unknown
Tag :

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Jumlah Pengunjung

- Copyright © Cahaya Muslimah -