Rindu
Malam minggu tiada tugas, iseng-iseng buka buku eh.... nemu catatan puisiku di waktu masih nyantridulu. ceritanya ne, waktu itu saya lagi galau, karena pengen pulang. kangen rumah, kangen ibu bapak dan adik-adikku semua. akhirnya coret-coret kertas deh....
dan ini ne hasil coretanya... :)
Rindu
Kulihat dari cahaya bulan di pesantren
Serambiku kelam dan berudara sepi
Tiada suara tiada pula bayangan
Kecuali orang tuaku yang semuanya telah pergi
Terkadang terasa perlunya pulang kembali
Bercerita dan berkaca pada hari-hariku punya
Dirumahku yang penuh canda dan duka keluarga
Wahai ustad dan ustadzah kapan waktu itu kan tiba
Banjir bandang di raut wajah
Rasa rindu bercampur pilu
meratapi kehidupan yang pernah kujalani
Di pesantren yang buatku teguh hati
Ya Robbi...
Perkenankanlah kalbu ini tuk teguh
Menanti waktu yang ku tunggu
Tuk dapat bercerita kembali
Dengan insan yang kunanti
Ya Robbi...
Umi...
Abi...
Hapuslah duka ini
Dengan kembali bersamamu
Kembali kepangkuanmu
Malam minggu tiada tugas, iseng-iseng buka buku eh.... nemu catatan puisiku di waktu masih nyantri dulu. ceritanya ne, waktu itu saya lagi galau, karena pengen pulang. kangen rumah, kangen ibu bapak dan adik-adikku semua. akhirnya coret-coret kertas deh....
dan ini ne hasil coretanya... :)
Rindu
Kulihat dari cahaya bulan di pesantren
Serambiku kelam dan berudara sepi
Tiada suara tiada pula bayangan
Kecuali orang tuaku yang semuanya telah pergi
Terkadang terasa perlunya pulang kembali
Bercerita dan berkaca pada hari-hariku punya
Dirumahku yang penuh canda dan duka keluarga
Wahai ustad dan ustadzah kapan waktu itu kan tiba
Banjir bandang di raut wajah
Rasa rindu bercampur pilu
meratapi kehidupan yang pernah kujalani
Di pesantren yang buatku teguh hati
Ya Robbi...
Perkenankanlah kalbu ini tuk teguh
Menanti waktu yang ku tunggu
Tuk dapat bercerita kembali
Dengan insan yang kunanti
Ya Robbi...
Umi...
Abi...
Hapuslah duka ini
Dengan kembali bersamamu
Kembali kepangkuanmu
Belanja di akhir Flu
Assalamu’alaikum sobat bloger,
Alhamdulillah setelah lima hari terserang batuk pilek yang menurunkan kondisi kesehatan fisik, hari ini telah Allah beri kesembuhan atas itu semua. Dan lebih bersyukurnya lagi selama sakit perkuliahan selalu libur sehingga bisa membuat Sefti istirahat secara total selama flu menyerang. Dan alhamdulillahnya lagi ne sobat, di hari terakhir flu menyerang. tepatnya saat Sefti selesai ngajar ekskul di SMP Negri 29 Surabaya Sefti memperoleh gajian Sefti bulan ini. Akhirnya sepulang ngajar sefti dan tentunya with sahabat Sefti si Rochmatun Ni’mah terbang deh ke Robbany dan ITC. Hehe, biasa perempuan ngapain lagi kalau ndak belanja J
Sahabat bloger tahu ndak kita selesai ngajar jamberapa?
Jam 12.30 wib kita baru selesai ngajar. Pasca itu kita langsung terbang ke Robbany, karena kita dalam kondisi belum shalat, so pastilah… tujuan utama kita adalah mushollah. Setelah sholat telah kita tegakkan langsung deh uber barang-barang yang mau di beli. Kebetulan saat itu Robbany lagi ada chasbeck 100% jadi ya semangatnya nguber barang-barang luarbiasa. Haha J
Tapi berhubung dua hari lagi masa chasbeck 100% Robbany berakhir, jadi barang-barang yang di Robbany uda banyak di borong sama orang-orang di hari-hari sebelumya. Karena itu di Robbany sefti Cuma ngeluarin uang senilai Rp 20.000.00. nah sahabat sefti si ni’mah gag tau abis berapa, soalnya yang di borong lumayan juga sih, hehe .
Karena kurang puas belanja di Robbany, kita berdua cap cus lagi ke ITC. Saat nyampai di ITC adzan Ashar berlangsung, jadi tujuan utama kita setelah parkir montor adalah menghampiri mushollah buat menegagkan empat rakaat sholat Ashar. Setelah kewajiban telah di tunaikan, langsung deh kita ke area Muslimah, di sana temen Sefti masih semangat mborong kerudung dan kawan-kawanya. Sefti sih masih muter-muter binggung apa yang mau di beli. Sebab belum ada barang yang menarik hati Sefti. Setelah lama kita muter-muter akhirnya Sefti putusin mampir ke stand Wardah. Setelah usai membeli kebutuhan di wardah Sefti masih binggng juga apa yang mau Sefti beli setelah ini. Akhirnya Sefti berniat membeli mukenah tapi emang yang namanya sefti, nyari munekah dari lantai satu hingga lantai tiga dan turun ke lantai satu lagi tetep aja ndak menemukan mukenah yang berhasil menarik hati Sefti untuk di beli. Wal hasil tahu ndak apa yang Sefti beli setelah kelelahan belanja tapi tidak ada yang di beli selain saat mampir ke wardah. Sefti malah membeli ransel buat adek Sefti. Hehe, gag apa-apa lah kan sayang saudara. Lagian ransel adek juga uda waktunya untuk di ganti. Tapi emnag dasar adek sefti yang gitu tu, dia itu gag mau minta-minta keorang tua, pengenya orang tua sendiri yang peka. Sebagai kakak yang baik hati dan tidak sombong serta rajin menabung Sefti deh yang peka. J
Ceritanya itu, saat muter-muter sampek capek waktu cari mukenah sefti melihat ada tas ransel yang bagus, kuat dan cocoklah buat adek sefti yang kelas X . apa lagi merk nya juga polo classic. Bener-bener tuh tas berhasil membuat sefti mengeluarkan beberapa lembar uang dari isi dompet sefti, so pasti setelah proses tawar menawar yang sedikit panjang. Hehe
Setelah membeli tas tersebut mata Sefti mulai tertarik lagi pada sebuah sepatu berwarnah coklat. Iseng-iseng Sefti menghampiri stan sepatu tersebut. Di saat Sefti mengenakan sepatu berwarnah coklat yang cantik itu, kaki Sefti terlihat begitu manis, wal hasil terjadi deh proses tawar menawah berujung barter sepatu dengan selembar uang. Saat itu waktu uda nunjukkin pukul 17.00 kita mulai lelah dan akhirnya mutusin pulang, saat di stand arloji mata sefti tertarik lagi dengan Arloji yang begitu mungil dan manis. Emang mood belanja uda mulai muncul, di beli deh itu arlji. Hehe
Setelah dari stand arloji, kita bener-bener berazzam unntuk segera pulang, sebab kalau tidak begitu. Bisa-bisa ini uang di dompet akan terkuras habis. Dan akhirnya Sefti dan sobat Sefti yang cuss… keluar dari ITC dengan buah tangan dari robbani, wardah, ransel, sepatu dan terakhir arloji. Jangan tanya ya habis berapa, hehe
Dan akhirny pukul 18.00 wib sampailah Sefti di kamar kosan tercinta. Setelah itu segerah mandi dan sholat maghrib.
Gitu deh aktifitas belanja Sefti bulan ini…
Surat untuk Calon Suamiku
Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh
Bagaimanakah kabarmu saat ini?
Aku berharab Allah senantiasa menjagamu dari keteguhan iman
dan takwa
Walau mungkin kiranya sakit kini sedang engkau derita
Wahai calon imamku…
Sepertinya kini masih belum saatnya Allah satukan kita
Mungkin kita masih harus belajar banyak hal untuk menjadikan
bekal perjalanan cinta yang indah
Agar nanti saatnya tiba cinta kita menjadi cinta yang penuh
barokah
Duhai caon imamku…
Sepertinya engkau perlu tahu, ku adalah sosok yang
pencemburu
Maka ku harab ngkau senantiasa menjaga hatimu
Seperti halnya aku pun akan tetap menjaga hatiku sampai masa
nanti kita bertemu
Wahai calon imamku…
Ingin ku sampaikan padamu,
Aku bukan muslimah yang selembut khodijah, yang selalu tahu
bagai mana harus menyikapi suasana hatimu
Aku pun bukan seperti Aisyah yang cntik, cerdas dan lincah,
sehingga mampu memberikan kedamaian di hatimu
Atau bahkan seperti Fatimah yang tanguh dan penyabar, sehingga
mampu memotivasimu menjadi sebaik-baik imam
Namun ketahuilah wahai suamiku….
Bahwa dari sosok merekalah aku belajar untuk menjadi
pendamping tebaik bagimu
Dengan gengaman tanganmu yang lembut aku berusaha menjadi
khodijah untukmu
Dengan kesabaranmu aku belajar menjadi Aisyah yang mampu damaikan
suasana hatimu
Dan dengan semangatmu aku belajar kuat dan menjadi inspirator
keberhasilanmu
Wahai suamiku,…
Sungguh aku sangat mencintaimu,
Bantulah aku agar tidak menempatkanmu no satu di hatiku
Karena hanya Allohlah pemilik tempat itu
Duhai suamiku…
Jika nanti Alloh telah satuhkan kita
aku tak ingin apapun darimu, selain cintamu pada Alloh dan
dienmu sebagai bukti cintamu padaku
Bersabarlah kau dalam penantian ini
Karena inilah masa puasa kita, hingga nanti tiba saatnya waktu
berbuka
Waktu yang mengantarkan kita untuk terus bersama dalam
mengapai ridho-Nya
Surabaya, 22 Oktober 2014
Yang sangat mencintaimu
Sefti Ika Wulansari
Cintaku dan Ayat-Ayat Cinta-Nya
Ada sebuah cerita, cerita ini mengisahkan tentang isi hati
seorang mahasiswi semester tua. Ya semester tua, begitu sebutan umum bagai
mahasiswa yang masuk pada semester VI ke atas. Cerita ini bermula saat seorang mahasiswi, sebutlah ia
bernamah iffah. Ketika itu ia berada di semester II. Ia berfikir sedikit
mendalam. Ia memikirkan seperti apakah laki-laki yang kelak akan menjadi jodohnya. Ia sangat takut manakalah jodohnya adalah
laki-laki yang dangkal pengetahuanya mengenai Agama Islam. Ya tentu itulah yang
ia takutkan, karena ia adalah seorang mahasiswi muslim. Tapi ia berbeda dengan
mahasiswi pada umumnya. Jika kebanyakan mahasiswi mengingingkan pendamping
hidup yang bertampang keren, maco, kaya, atau yang berpendidikan tinggi. Minimal
setara dengan dia yang S1. Namun Iffah tidaklah demikian. Ia mengingkan, bahkan
sangat berharab suatu saat ia akan berjodoh dengan seseorang yang luas dan
dalam pengetahuan serta pemahamannya terhadap syariat Islam. Lebih-lebih jika
sang jodoh adalah laki-laki yang Takhfidul Qur'an. Ya begitulah Iffah dengan
harapan qalbunya.
Suatu hari ia bertekat menjadikan
dirinya sebagai seorang hafidzah. Ya seorang hafidzah. Ia teringat pada sebuah
ayat Al-Qur’an yang sangat mengiang di hatinya. Ayat Al-Qur'an yang menjanjikan
bahwasanya laki-laki yang baik adalah untuk perempuan yang baik, dan begitu
sebaliknya. Dari ayat itulah ia berfikir, jika ia mengharab jodoh yang soleh
lagi hafidz. Maka ia pun harus sholeha lagi hafidzah.
Sepertihalnya sebuah bunga yang
sedang mekar, tentu ada kumbang yang menghampiri. Begitulah Iffah, di usianya
yang ke 20 tahun. Tentu ada beberapa laki-laki yang mulai menghampiri. Ya, ada
diantara mereka laki-laki yang pintar dan tinggi pendidikanya, ada pula
laki-laki yang dalam pemahamanya terhadap Agama Islam. Serta ada juga laki-laki
yang kaya dan baik hati. Begitupun tak ketinggalan laki-laki yang tampan
wajahnya dan ramah perilakunya. Tapi entah mengapa tiada diantara mereka yang
sanggub menarik hati iffah, sigadis yang manis nan lembut ini. Entah mengapa
aku pun tak mengetahui sebabnya. Tapi satuhal yang aku tahu. Ya... satuhal, dan
aku yakin ini adalah alasan yang terkuat. Karena diantara laki-laki tersebut
tak ada dianta mereka yang hafidz Qur'an. Memang rasa memiliki seorang imam
hafidz sudah menancap dalam di palung hati iffah. Sehingga seperti apapun jenis
dan wujud laki-laki yang datang tak ada satu pun diantara mereka yg sanggub
walau sedikit mengoreskan sesuati di hati gadis manis ini.
Suatu hari, saat ia tetap menjaga
hatinya hanya untuk sang imam yang halal baginya. Saat ia tetap ikhtiar
menghafal ayat-ayat Cinta Tuhanya. Aku bertanya " Sobat, apakah engkau
tidak berkeinginan menjalin cinta yang halal dengan ikhwan-ikhwan yang selama
ini telah memberi rambu-rambu niat keseriusanya padamu?" . Ia pun menjawab
" tunggu sahabatku, aku rasa hati ini masih harus aku jaga dan ku
pertahankan keutuhanya. Aku masih belum usai kuliah, dan aku pun masih amat
sedikit menghafal Al-Qur-an. Ditambah pua aku rasa diantara mereka masih belum
ada hafidz Al-Qur'an" . Kembali aku pun bertanya " engkau tertarik
dengan dia yang tampan, tau adia yang kaya, atau mungkin dia yang cerdas lagi
tinggi pendidikanya. Sepertinya mereka mencintaimu..." . Kembali ia pun
menjawab " bagaimana mungkin aku bisa mencintainya, sudakah ia mencintai
Allah dan Kitab-Nya??? Bagaimana nantinya masa depanku dan keturunanku?? Aku
ingin anak-anakku nantinya menjadi penjaga kalamullah,
karena ada Ayat-ayat Allah yang melekat di hati dan otaknya. Dan bagaimana itu
bisa terjadi? Jika bukan dimulai dari orang tua yang hafidz dan hafidzah
terlebih dahulu". Diam dan tidak bisa berkata apa-apa diriku mendengar
jawabanya. Ya jawaban akhwat yang sombong pada dirinya sendiri. Tapi inilah
kesombongan yang memotivasi. Memotivasinya untuk mengapai harapan hidupnya
dalam mewujudkan keluarga sebagai penjaga Ayat-ayat Allah di jiwanya.
Saat semester VII telah tiba. Do'a yang terus dipanjatkan
dengan usaha yang istiqomah di dalam menjalankanya. Akhirnya Allah Ajwajallah
pun mengirimkan seorang pemuda yang datang mengetuk pintu rumahnya. Ya seorang
pemuda denga seorang lelaki berjengkot yang berwajah teduh.
Ketika pintu rumah dibuka dengan sopan, iffah bertanya sambil secepatnya menundukkan pandangan " waalaikumussalam, maaf adakah yang dapat saya batu".
Ketika pintu rumah dibuka dengan sopan, iffah bertanya sambil secepatnya menundukkan pandangan " waalaikumussalam, maaf adakah yang dapat saya batu".
" Saya ilham, dan ini ustad saya
ahmad Hidayatullah. Kami ingin menemui ayah anda". Jawab orang yang tepat
di hadapannya.
" Ow monggo masuk, ayah ada di
rumah, sebentar saya panggilkan. Silahkan duduk". Jawabnya sembari mempersilahkan dua tamunya duduk.
Ketika itu tante aminah ibu dari
iffah tidak lagi mengizinkan iffah menemui sang tamu. Ya begitu memang cara
keluarga Iffa menjaga putra-putrinya untuk tidak menjalain komunikasi dengan
lawanjenisnya tanpa adanya suatu keperluan penting. Setelah ayah iffah menemui kedua
tamu itu. Seperti biasa, rakhmad adik laki-laki iffah lah yang memberikan
minuman pada sang tamu. Dan selepas itu, ketika rakhmad mempersilahkan
tamu-tamu itu untuk menikmati hidangan yang telah di suguhkan, sang ayah
berbicara padanya " nak panggil ibumu kesini sebentar ", "Enjeh yah.. " Jawab rakhmad sambil
menganggukkan kepala dan meninggalkan tempat.
Didalam ruang tamu, saat obrolan telah beberapa menit
berlangsung, ibu aminah datang. Ayah Iffah pun segera berbicara " bu, ini
nak Ilham, dan ini ustad Ahmad pengajar pesantren Takhfidul Qur'an di jawa
tengah ".
" Oww
enjeh-enjeh... ". menganguk-angukkan kepala seolah memahami siapa orang
asing yang kini dihadapanya itu.
"Jadi ustad Ahmad ini adik dari ustad yusuf, mudirul
ma'had Iffah saat di pesantren dulu". Tambah ayah iffah.
" Oww,, lah terus punopo ustad
yusuf mboton turut tindak meriki" tanya ibu aminah pada ustad Ahmad.
" Enjeh bu, ustad Yusuf meniko
ngadah niat bade tindak sareng-sareng wonten meriki. Nanging mendadak ten
pesantren kang mas sakniki wonten tamu ndugi sumatra. Dadose mboten saget
sareng dateng meriki" . Jelas ustad yusuf.
" Enjeh buk, kan kemarin ustad
yusuf sudah bikin janji sama ayah kalau hari ini akan datang dengan adiknya dan
salah seorang santri dari pesantren adiknya, yaitu pesantren ustad Ahmad
ini."
" Enjeh bu, dados niat kulo
dateng meriki selaku wakil tiang sepuh ndugi santri kulo Arifin Ilahm bade
nyampek anken niatan santri kulo ingkang ngadai kekarepan nedi putri ibu
Izzatur Roiffah supados saget dados imam kangge putrinipun njenengan ".
Tutur ustad Ahmad dengan nadanya yang tenang dan angun.
" Owalah enjeh, lah ngapunten
sak derenge njeh, punopo kok tiang sepuh dateng nak ilham mboten sareng tidak
meriki. " Tanya ibu aminah.
" Jadi begini low bu, nak ilham
ini kan asline soko Sulawesi. Nah ayah lan ibune ndak bisa dateng. Kan jarak
sulawesi ke jawa itu ndak dekat toh bu, nah kondisi ayah lan ibu e nak ilham
ini pun sepuh. Jadi ndak bisa dateng toh. Niat te itu, yen nanti ada
persetujuan sama kita lan Iffahnya sendiri, ibu dan ayah nak ilham ini akan
datang kemari untuk lamaran dan sekalain aqad nikah. Kan kondisine nak ilham
ini di pesantrennya ustad Ahmad sebagai santri pengabdian, setelah kemarin
dapat beasiswa belajar di Madinah dr pesantren ustad Ahmad ini bu" . Jelas
ayah iffah.
" Owlaha,, nah ini nak Ilham pun
kenal nopo dereng kaleh iffah".
" Alhamdulillah, melihat sekilas
pernah bu. Mengenal juga sudah dari carita Ustad Yusuf. Semenjak saya masih
nyantri dulu ustad Ahmad sering mengajak saya silaturahim ke pesantren ustad
yusuf. Dari situ saya pernah melihat putri ibu. Kemudian saya tanya ke ustad
Ahmad. Eh ndak tahunya ustad Ahmad menceritakan ke ustad Yusuf kalau saya
pernah menanyakan perihal putri ibu. Nah semenjak saat itu, sedikit banyak saya
mengenal putri ibu dari ustad Yusuf. Karena biasanya bliau bercerita tentang
putri ibu pada saya dan ustad Ahmad ketika kami silaturohim ke pesantrennya.
Setelah saya lulus dari madinah, saat saya kembali berkunjung ke pesantren
ustad yusuf beberapa waktu lalu. Kembali saya berjumpa sekilas dengan putri
ibu. Dan dari pertemuan sekilas itu, saya ada perasaan yang ingin saya
sampaikan kepada ustad Ahmad dan ustad yusuf untuk membantu saya dalam niatan
mengkhitbah putri ibu. Karena cerita ustad yusuf telah memantabkan hati
saya."
" Nah begitu bu caritane..
" Tutur ayah aiffah.
" Ya Allah le... , ibu njumun
ngeringokno crito koe... "
" Njeh pun bu, saknini ibu
timbali Iffah, yek nopo tanggapane iffah. Sak piturute kan tergantung yek apa
iffah toh..." pinta ayah iffah
"Injeh pak... Injeh... "
Jawab bu aminah yang kemudia menghampiri iffah
Beberapa menit kemudian iffah menemui
mereka di ruang tamu.
" Ayow lengah ndok, ini nak
ilham. Dan yang ini ustad Ahmad. Bliau adik dari Ustad Yusuf, direktur pondokmu
dulu" jelas ayah iffah.
Iffah hanya mengangguk dan tetep
menundukkan pandangan, begitu pula dengan ilham yang mulai menundukkan
pandangan matanya saat kehadiran Iffah ke ruang tamu. Setelah beberapa menit perbincangan
berlanjut. Akhirnya sang ayah menanyakan bagaimana jawaban dari iffah.
" Makasih ayah selalu melibatkan
iffah dalam hal ini, kepada ustad Ahmad iffah juga mengucap terimakasih atas
kesediaannya menjadi penghubung antara akh Ilham dengan ayah. Dan kepada akh
ilham, iffah meminta waktu beberapa hari untuk menjawabnya. Dalam hal ini iffah
ndak bermaksud mengantungkan atau apa, iffah hanya meminta waktu untuk istikhoro.
InsyaAllah seminggu setelah ini iffah akan memberikan jawaban." Kembali
menunduk.
" Ndak apa-apa, itu perkara
sohih, mungkin iffah ingin bercengkrama terlebih dulu dengan Allah. Memang
begitu seharusnya. Libatkanlah Allah dalam mengambil keputusan. Apa lagi untuk
perkara yang sepenting ini. InsyaAllah Ilham berlapang dada menunggu, jangankan
dalam waktu seminggu sepuluh haripun insyaAllah ilham masih sabar menanti
jawaban. Bukan begitu ham..".Jawab ustad Ahmad sambil menepuk pahapemuda
itu dengan senyum manisnya.
Ya begitu memang suasana saat ini.
Ustad ahmad mencoba mencairkan ketegangan di hati pemuda bernama Ilham itu. Tak hanya ustad Ahmad, ayah
iffah pun turut berbicara menanggapi jawaban iffah. "Jadi itu keputusanmu ndok, ya sudah, sekarang kembali
kepada nak Ilham. Bagaimana nak ilham..". Sambil memberi senyum manis
pemuda itu menjawab, "injeh pak, begitu memang seharusnya. Selalu
Melibatkan Allah dalam menggambil keputasn. Maka ndak ada bagi saya alasan
untuk berberat hati".
"Alhamdulillah... Pun ini
minumnya di ujunjuk dulu.. Kue juga monggo di dahar, ini kue buatannya iffah
kemarin sore low". Sahut bu Aminah yang turut memecahkan ketegangan
suasana.
........---*_*---.......
Seminggu kemudian iffah menyampaikan jawaban atas kesediaannya menjadi makmum dari seorang pemuda yang seminggu lalu telah mengkhitbahnya.
Singkat cerita, akhirnya kedua keluarga dari pulau yang berbeda ini saling bertemu. Dalam proses lamaran ini, rupanya kedua bela pihak keluarga tak ingin memperlama waktu prosesi ijab-qabul. Sehingga waktu kesepakatan dilaksanakanya ijab - qabul pun segera ditetapkan. Dan resepsi pernikahan sederhana yang islami pun terjadi. Suatu ketika setelah pernikahan itu berlangsung. dengan menidurkan kepala diatas pangkuan sang istri, ilham bertanya kepada istrinya sembari berusaha menjadi suami yang romantis.
Seminggu kemudian iffah menyampaikan jawaban atas kesediaannya menjadi makmum dari seorang pemuda yang seminggu lalu telah mengkhitbahnya.
Singkat cerita, akhirnya kedua keluarga dari pulau yang berbeda ini saling bertemu. Dalam proses lamaran ini, rupanya kedua bela pihak keluarga tak ingin memperlama waktu prosesi ijab-qabul. Sehingga waktu kesepakatan dilaksanakanya ijab - qabul pun segera ditetapkan. Dan resepsi pernikahan sederhana yang islami pun terjadi. Suatu ketika setelah pernikahan itu berlangsung. dengan menidurkan kepala diatas pangkuan sang istri, ilham bertanya kepada istrinya sembari berusaha menjadi suami yang romantis.
"dindakau bagaimana bayangmu
jika ada malaikat-malaikat kecil yang meramaikan rumah sederhana kita
ini".
Dari pertanyaan itu tak ada jawaban
dari sang istri, selain beberapa air mata yang tiba-tiba menetes. Melihat tetesan air mata itu,
ilham seketika bangkit dari tidurnya dan membasuh airmata yang mencoba kembali
membasahi wajah istrinya.
" Sayang, kenapa denganmu.
Maafkan mas. Jika pertanyaan mas tadi melukai hatimu".
"Adik malu mas, adik malu sama
diri adik sendiri. 30 jus ayat-ayat Allah belum hatam adik hafalkan. Pantaskan
adik menjadi ibu yang memiliki harapan putra-putrinya sebagai penjaga Ayat-Ayat
Allah". titur sang istri dalam tangisnya.
" Sayang... Sekarang engkau
tidak sendiri. Mas akan membantumu menghafalkan Ayat-ayatNya. Ini tugas mas
sebagai suami. Kita akan bersama-sama menjadi orang tua penjaga Ayat-ayat
Allah, dan melahirkan generasi-generasi ghuroba yang hafidz dan hafidzah".
Sambil memegang kedua tangan istrinya dan kemudian membawa sang istri pada
dadanya dan merangkulnya dengan penuh cinta.
Saat kita jatuh Cinta
Dulu Fatimah ra pun pernah mengagumi sesosok pemuda yang tanguh. Pemuda yang sangat di cintai oleh rasulullah. Jika ia adalah sosok yang di cintai rasulullah, tentu kita bisa menebak seperti apa kira-kaira pemuda itu hingga Rasulullah SAW mencintainya. Ya siapa lagi, dialah Ali ra.
Tapi meski demikian, rasa yang ada di hati fatimah. Tak sedikitpun ia tampakkan, baik melalui kata-kata, maupun perbuatan. Hingga syaiton pun tak mengetahui ada cinta yang telah di sembunyikan.
Sahabat, kita tidaklah setangguh Fatimah, yang mampu menjaga hati dan menyembunyikan cinta dalam diam. Maka jika cinta itu tiba sebaikkan berusahalah untuk mematikan. Kecuali ada kebranian tuk ungkapkan demi terjadinya ijab-qbul yang di inginkan.
Mematikan cinta tak seharusnya membuat kita takut, karena ketetapan yang baik ada di tangan-Nya. Lihatlah bagaimana akhir kisah cinta Fatimah. Yang ternyata Ali ra lah jodohnya.
Sesuatu yang kepada Allah kita titipkan, maka Dia akan menjaga. Tak perlu lagi kita risaukan. Karena tak ada sebaik-baik penjaga selain Dia?
Maka.....
Masihkan kita harus biarkan bergemuruh cinta yang belum saatnya tiba ini ?
Membiarkan sosok pemuda yang tidak halal bergelayut dalam fikiran karena pengaruh hati?
Membiarkan Wajah yang dulu teduh kini digelayuti suasana cinta pada pemuda yang sesungguhnya masih belum pasti?
Kembalikan pada hati kecil yang kalu miliki. Dan marilah bersama kita matikan cinta di hati.
Hati-hati terhadap Prasangka
Sahabat, yuk kendalikan diri untuk tidak berperasangka dulu. Karena nantinya segala yg kita perbuat akan di mintai pertanggung jawaban.
Allah berfirman:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai ilmu tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya."
(Al-Israa: 36)
So kalem aja.....
Kalau hati mulai bimbang, pikiran ragu-ragu,, tenang dulu. Rileks sejenak...
Kemudian mulai cari kepastian..
Biar ndak timbul itu yang namanya suka berperasangka..
sebab apa? Sebab Rasulullah berfirman yg artinya begini ne...
"Hati-hatilah terhadap prasangka, sesungguhnya prasangka adalah pembicaraan paling dusta"
(HR.Bukhari)
Okey dear...
Jaga keutuhan Ukhuwah
Hamasa lillahi ta'alah
Pantaskah kita mencibir hukum Qisos?
Tidakkah kita ketahui dalam Al-Baqoroh:178 Allah mewajibkanya. Bukankah dengan tegakkannya hukum qishosh, maka dengannya akan terjadi kelangsungan hidup yang aman dan kemaslahatan hidup manusia, karena bukanlah maksud qishosh itu sekedar membunuh dan membinasakan umat, tetapi justru demi menjaga manusia supaya tidak saling bunuh membunuh, Alloh berfirman;
وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ [ ٢:١٧٩]
"Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa" (QS.Al-Baqoroh 179)
Lantas pantaskah kita meragukan hukum Allah...
Mungkin kita pandai dalam bersilat lidah, sehingga membuat kita yakin pada dalih pengetahuan yang kita miliki.Namun lupakah kita, karena siapa kepawaian kita bersilat lidah? karena siapa kecerdasan dan keluasan pengetahuan yang kita miliki? Pantaskah dengan semua itu kita menyombongkan diri dan acuh pada Hukum illahi? sampai-sampai harus menyibirnya karena tak sesuai dengan kehendak hati dan hukum negri ini. Bahkan hanya sekedar memiliki rasa keinginan terapkan hukum Allah pun tak ada di dalam hati yang kita miliki.
.jpg)




.jpg)